Minggu, 07 Agustus 2011

Parenting

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Hubungan orang tua dan anak kian berjarak. Di Inggris, ada fenomena menarik: anak usia lima tahun tak tahu nama depan mereka, saking tak pernah hal-hal semacam itu diobrolkan dengan orang tua mereka. Bagaimana menjadi seorang ibu atau ayah yang lebih baik? Berikut kiat sebuah organisasi think tank Inggris yang mengkampanyekan pentingnya menjadi ortu yang lebih baik:

Setiap hari, orang tua harus didorong untuk membaca untuk anak-anak mereka selama 15 menit dan berbicara dengan mereka selama 20 menit sementara televisi dimatikan.
Mereka juga harus memuji anak-anak mereka jika mereka melakukan hal-hal baik dan sering bermain dengan mereka di lantai selama sepuluh menit dan memberikan makanan bergizi.
Penulis laporan, Chris Paterson, mengatakan bukti ilmiah menunjukkan bahwa apa yang orang tua lakukan dengan anak-anak mereka sangat penting dalam perkembangan otak dan keterampilan anak.
"Ada juga bukti kesenjangan yang signifikan  antara orang tua yang melakukan langkah sederhana di atas dengan yang tidak," katanya.
Orang tua, katanya, juga  harus mempelajari perkembangan anak karena  mereka akan tidak secara 'otomatis' tahu apa yang harus dilakukan.
Sarannya ini sebenarnya bagus dan masuk akal. Namun di Inggris, menjadi persoalan ketika negara menyarankan orang tua untuk melakukan sejumlah langkah memperbaiki hubungan dengan anak. Mereka membacanya sebagai campur tangan negara pada proses parenting sebuah keluarga.

Konsep PDAC


Seringkali kita menghadapi masalah pekerjaan di tempat kerja yang seolah olah tidak pernah selesai, bahkan beban pekerjaanpun tiap hari terasa semakin menumpuk padahal kita merasa sudah bekerja dengan sebaik-baiknya. Lalu apa yang semestinya kita lakukan..? Bagaimana kita mengatasi masalah ini? Benarkan kita sudah bekerja dengan sebaik-baiknya? 
Didalam ilmu manajemen, ada konsep problem solving yang bisa diterapka ditempat kerja kita yaitu imenggunakan pendekatan P-D-C-A sebagai proses penyelesaian masalah. Dalam bahasa pengendalian kualitas, P-D-C-A dapat diartikan sebagai proses penyelesaian dan pengendalian masalah dengan pola runtun dan sistematis. Secara ringkas, dapat dijelaskan sebagai berikuti:
1. P (PLAN = Rencanakan)
Artinya merencanakan SASARAN (GOAL=TUJUAN) dan PROSES apa yang dibutuhkan untuk menentukan hasil yang sesuai dengan SPESIFIKASI tujuan yang ditetapkan. PLAN ini harus diterjemahkan secara detil dan per sub-sistem.

2. D (DO= Kerjakan)
Artinya MELAKUKAN perencanaan PROSES yang telah ditetapkan sebelumnya. Ukuran-ukuran proses ini juga telah ditetapkan dalam tahap PLAN. Dalam konsep DO ini kita harus benar-benar menghindari penundaan, semakin kita menunda pekerjaan maka waktu kita semakin terbuang dan yang pasti kerjaan akan bertambah banyak..

3. C (CHECK=Evaluasi)
Artinya melakukan evaluasi terhadap SASARAN dan PROSES serta melaporkan apa saja hasilnya. Kita mengecek kembali apa yang sudah kita kerjaan, sudahkan sesuai dengan standar yang ada atau masih ada kekurangan.

4. A (ACT = Menindaklanjuti)
Artinya melakukan evaluasi total terhadap hasil SASARAN dan PROSES dan menindaklanjuti dengan perbaikan-perbaikan. Jika ternyata apa yang telah kita kerjaan masih ada yang kurang atau belum sempurnya, segera melakukan action untuk memperbaikinya. Proses ACT ini sangat penting artinya sebelum kita melangkah lebih jauh ke proses perbaikan selanjutnya.
Nah, bagaimana dengan Anda, apakah di perusahaan Anda sudah melakukan hal yang serupa? 
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk sahabat-sahabat semua..
Selamat berkarya dan salam sukses..



Selasa, 05 Juli 2011

Masihkah Menunda Pernikahan?

Jika kita perhatikan kondisi pergaulan pemuda dan pemudi hari ini, sebagian besar banyak yang memutuskan untuk menunda pernikahan mereka dengan berbagai alasan. Terutama bagi laki laki, banyak yang menunggu  kehidupannya mapan dulu baru merencanakan pernikahan karena merasa jika menikah terlalu dini khawatir tak mampu memberikan kehidupan yang baik pada keluarganya kelak. Biasanya rencana mereka adalah selesaikan kuliah dulu, kemudian cari kerja dan berkarier di perusahaan kira kira 3-5 tahun, kemudian pelan-pelan mengumpulkan biaya untuk modal nikah dan berumah tangga. Sehingga sebagian besar menikah diatas usia 25 tahun, bahkan ada yang sampai diatas usia 30 tahun baru mulai merencanakan pernikahan. Dan pemahaman seperti ini sudah umum dimasyarakat kita.
“Wahai generasi muda! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
Kata “mampu” pada hadits di atas bukanlah berarti harus mapan. Penekanan kata mampu pada hadits tersebut adalah kesiapan dengan penuh tanggung jawab untuk memikul beban berumah tangga, siap secara konsisten berikhtiar dalam memenuhi kewajiban dalam mensejahterakan keluarga. Tidak ada keharusan harus memiliki penghasilan tetap, menduduki posisi yang bagus di perusahaan, bergaji besar, punya rumah, kendaraan dan seterusnya.
Jika kita mau jujur, persepsi yang terpatri dalam benak sebagian pemuda kita hari ini adalah ukuran ukuran duniawi, yang akhirnya menyulitkan langkah mereka sendiri menuju indahnya pernikahan, sehingga tidak jarang mereka tanpa sadar telah membiarkan mata, telinga dan kemaluan mereka tidak terpelihara.
Lebih menyedihkan lagi, persepsi ini juga masih menjadi sistem dalam pemikiran sebagian dari para pemuda yang notabene saat ini telah bertekat menginfakkan harta dan jiwanya di jalan dakwah. Alasan apalagi kah kiranya yang membuat saudara saudara lelakiku sehingga masih menunda pernikahan? Sementara jumlah akhwat yang semakin cemas dengan usia mereka terus semakin panjang deretannya.
Di daerah saya tinggal saat ini (Bali) misalnya, sampai ada muslimah yang meminta kepada seorang Ustadzah agar dinikahkan dengan siapa saja, jika tidak dengan lelaki tertarbiyah (terbina), duda atau dijadikan istri kedua pun bersedia asal lelaki itu adalah lelaki yang sholih. Hal ini terjadi karena usia terus bertambah, mereka para muslimah itu  sudah berpenghasilan, namun tak kunjung datang juga lelaki yang sholih yang meminangny. Para muslimah itu membutuhkan imam, pendamping hidup mereka, mereka pun ingin seperti wanita sholihah lain yang bisa menyempurnakan setengah agamanya dengan menikah.
Sepertinya pemuda-pemuda kita ini perlu diingatkan lagi tentang bahaya keragu-raguan, was-was, dan kroni-kroninya. Itu semua adalah bentuk dari tipu daya syaitan. Sebagai seorang pemuda yang telah mentarbiyah dirinya, mestinya lebih siap dalam meng-upgrade kualitas hidupnya. Setelah bertahun-tahun di tarbiyah (dibina,dididik dan dilatih) dalam rangka memperbaiki diri menjadi pribadi berkarakter islami, melalui proses islahul fardhi, bukankah semestinya segera melanjutkan ke tahapan dakwah berikutnya dengan membina keluarga muslim. Jika tahapan demi tahapan ini terus ditunda, berati kita juga terus menunda terwujudnya cita cita kita membangun peradaban islami.
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).
Tepiskan semua keraguan yang menggangu dari urusan duniawi, karena firman Allah diatas telah dengan tegas memberikan jaminan pada mereka yang dengan ikhlas menikah.
Hendaknya janganlah ukuran kekayaan dunia pula yang menjadi barometer kita. Banyak kita temui di lapangan setelah awalnya berniat mengumpulkan harta yang cukup dulu baru menikah, akhirnya terlalu asyik bekerja malah lupa mencari calon istri sehingga membuat diri semakin terjerumus ke lembah dosa. Mereka lebih suka melakukan onani untuk memuaskan syahwatnya dari pada menikah. Kembali lagi alasan belum sanggup menikah meskipun sudah memiliki pekerjaan tetap namun masih saja belum merasa mandiri.
Kasus ini pernah saya tangan sendiri, seseorang yang akhirnya tertekan dan stress akibat pikiran kotor selalu mengganggu aktivitasnya. Kebiasaan melakukan onani dan menyaksikan tayangan porno telah menjadi sesuatu yang sulit ia tinggalkan.  Sering setelah ia melakukan perbuatannya ia menyesal, dan bertaubat berjanji untuk tidak mengulanginya kembali. Namun tidak lama setiap kali godaan datang, diapun melakukannya kembali. Sampai satu hari seseorang itu mendapatkan informasi keberadaan klinik yang saya kelola, dan ia meminta agar dibantu untuk mengeluarkannya dari kebiasaan yang terus membuat dirinya berputar-putar dalam lingkaran perbudakan syahwat.
Solusinya apa? Ya menikah.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. “ (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
Efek negatif menunda pernikahan akan merusak mental. Namun, tidak jarang para pemuda dan pemudi  yang menunda pernikahan mereka, akibatnya di kemudian hari setelah semua dijalani dan akhirnya merasa sudah terlambat dan mulai  menyimpulkan bahwa jodoh mereka jauh. Padahal Allah berulang kali telah menunjukkan kesempatan dan peluang dihadapan mereka, namun sering diabaikan. Akhirnya tidak sedikit diantara mereka yang frustasi , depresi dan kehilangan percaya diri.
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)
Maka sebenarnya kebahagiaan, ketenteraman dan kualitas hidup kita salah satunya adalah dengan hidup bersama dalam ikatan suami istri. Bukanlah harta itu yang menentramkan tapi pasangan kita lah yang menenteramkan. Karena dengan dengan menikah seorang lelaki akan terbuka luas peluangnya untuk berbuat lebih banyak lagi kebaikan. Lebih banyak sedekah, dan lebih cepat melaju menuju kedewasaan hidup yang sesungguhnya dengan senantiasa melatih diri menjadi pemimpi yang baik dalam menegakkan kebenaran dan mejauhkan keluarganya dari kemungkaran.
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
Jika memang menunggu mapan. Kapan kira kira kita bisa memastikan harus menikah? Bukankah kata mapan itu sendiri adalah hal yang tidak jelas ukurannya? Sebagai contoh, ada seorang pemuda yang dipaksa menikah oleh calon istrinya, dan ia menolak dengan alasan belum mapan. Namun si calon istri tetap bersikukuh dan mengancam jika tidak menikah maka lebih baik hubungan mereka di akhiri karena dirinya akan menikah dengan lelaki lain. Kemudian singkat cerita mereka pun menikah dalam keadaan yang belum mapan. Setelah pernikahan mereka berusia lima tahun, ternyata keadaan ekonomi mereka juga belum bisa dikatakan mapan, masih biasa-biasa saja. Yang perlu kita renungkan kalau saja mereka tidak menikah lima tahun yang lalu, bisa jadi sampai hari ini mereka belum juga menikah, karena ekonomi belum juga mapan.
Sedangkan contoh-contoh lain juga tidak kalah banyaknya, sahabat sahabat saya yang memutuskan menikah dibawah usia 25 tahun. Dan sampai hari ini rumah tangga harmonis, semua berjalan dengan lancar, bisa mendidik dan menyekolahkan anak, meski belum mapan secara materi. Menikah berarti mendapat anugerah berupa perhiasan dunia terindah dari Allah yaitu seorang wanita yang sholehah.
Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
Dan dalam riwayat yang lain :
“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)
Tantangan bagi para pemuda, segeralah menikah. Jika Anda belum memiliki pekerjaan, maka bekerjalah dan tetaplah bekerja tanpa harus memiliki pekerjaan tetap. Karena dengan menikah keberkahan dari Allah akan terus belimpah, begitu pula dalam meraih pahala dalam beramal, karena sesungguhnya amal seseorang yang sudah menikah sangat berbeda dimata Allah dengan amalannya seorang bujangan.
Sabda Rasulullah SAW :
Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Adiy dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
Jika setelah menikah yang perlu Anda lakukan adalah terus meng-upgrade kemampuan Anda untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan rumahtangga Anda, dan menambah penghasilan Anda. Rejeki Allah yang menjamin.
Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)
Kalau kata seorang kawan : “jika masih muda belum menikah dan malas puasa, lalu siapa nabinya tuh?“
Rasulullah SAW. bersabda : “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari).
Dalam riwayat lain :
“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang “ (HR. Abu Ya’la dan Thabrani).
Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita untuk senantiasa berada di jalan keridhoan-Nya. Memilih sesuatu hanya karena Dia, siap menanggung sesuatu yang telah digariskan-Nya. Mari senantiasa kita pujia kebesaran Allah dengan indahnya cara yang Allah berikan untuk menenteramkan hidup kita, dan semoga kita tidak termasuk orang orang yang dikelabui oleh tipu daya dunia.

Wallahu’alam.

http://www.fimadani.com/masihkah-menunda-pernikahan/

Minggu, 03 Juli 2011

Kenali 5 Fase Pernikahan dan Tantangannya

Ada yang bilang, pernikahan itu manis di awal, kemudian seiring dengan waktu akan menjadi semakin hambar.
Sementara penasihat dan terapis untuk masalah rumah tangga dan keluarga, Rita DeMaria, PhD, penulis buku The 7 Stages of Marriages, mengatakan bahwa sebenarnya perkawinan ini terbagi menjadi beberapa fase penting. Dan, pada setiap fase itu Anda dan pasangan akan menghadapi berbagai tantangan yang akan menentukan masa depan rumah tangga Anda berdua.
"Dengan memahami seperti apa fase-fase itu, Anda akan dapat senantiasa melalui tahun demi tahun dengan ikatan cinta dankomitmen yang semakin kuat," kata DeMaria.
Inilah lima fase penting perkawinan dan apa saja yang perlu Anda ketahui:

Fase 1: Bulan madu
Tahun-tahun pertama hingga sebelum kedatangan anak-anak adalah masa penuh gairah dan cinta. Semua selalu tentang Anda berdua. Berlibur berduaan ke tempat terpencil, bercinta di waktu-waktu tak terduga, semuanya membuat hubungan terasa begitu romantis bak di film-film.
Namun, sebaiknya Anda juga perlu berusaha membangun fondasi rumah tangga dari hal-hal yang berada di luar urusan kamar tidur. Ini saatnya bicara, apa yang akan Anda berdua rencanakan untuk masa depan keluarga. Kapan akan punya anak, lalu bagaimana karier Anda dan suami. Siapa yang akan mengasuh anak nanti, dan apa harapan suami untuk anak-anak dan juga Anda. Bicarakan ini, maka selanjutnya Anda tidak perlu menghabiskan waktu untuk perdebatan yang tidak perlu.

Fase 2: Memantapkan fondasi

Anak-anak mungkin belum lahir, tapi Anda mulai mengetahui kekurangan, kelebihan, serta kebiasaan buruk pasangan--begitu pula dengan dirinya terhadap Anda. Di tahap ini, Anda perlu belajar pentingnya kerjasama tim di dalam keluarga. Samakan kembali visi dan misi ke depan dan jalin kedekatan dengan orang-orang yang berpengaruh terhadap Anda berdua, seperti keluarga besar misalnya.
"Salah satu penyebab pasangan suami-istri mengalami perceraian pada fase ini adalah karena mereka tidak berusaha untuk mempertemukan dua pikiran, dan malah menghindari perbedaan pendapat," kata Beverly Hyman, PhD, salah satu penulis buku How to Know If It's Time to Go: A 10-Step Reality Test for Your Marriage.

Fase 3: Keluarga adalah segalanya

Ini adalah fase terpenting dari kehidupan berkeluarga. Pada saat ini, Anda sudah membangun keluarga utuh dengan beberapa orang anak, membeli mobil dan rumah, dan mulai mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan masa depan. Hidup jadi semakin sibuk, dan menurut Dr Hyman, inilah saat yang rawan. Sebab, Anda jadi kurang memiliki waktu untuk berpikir tentang pasangan, bagaimana caranya agar bisa punya banyak waktu berdua, dan bagaimana menikmati keintiman dengan pasangan. Yang lebih banyak Anda pikirkan adalah anak-anak, pekerjaan, dan utang-utang yang harus dibayar.
"Sempatkan untuk berbicara dari hati ke hati dengan pasangan. Atur rencana untuk bisa berduaan saja. Tidak perlu sampai meninggalkan anak, tapi mungkin dengan menunggu mereka tidur di malam hari, lalu Anda bisa nonton berduaan dengan pasangan dan bercakap-cakap. Lebih baik lagi, bila setelahnya 'percakapan' ini berlanjut di atas ranjang," saran Dr Hyman.

Fase 4: Kembali berdua

Ketika anak-anak sudah besar, menuntut ilmu atau bekerja di kota lain dan lebih sibuk dengan urusan pribadinya, Anda akan mendapati bahwa inilah saat ketika Anda kembali berduaan dengan pasangan. Berbeda dengan dulu pada waktu baru menikah, Anda mungkin bisa dibilang tidak punya banyak beban. Segala yang bersifat material sudah tercapai dan secara emosional Anda dan pasangan juga sudah jauh lebih matang.
Dr Hyman menyarankan Anda berdua untuk memanfaatkan fase ini dengan mencoba berbagai pengalaman baru. Seperti menekuni olahraga, berkebun, atau memelihara binatang. Anda bisa melakukannya bersama pasangan atau sendiri-sendiri.

Fase 5: Lengkaplah sudah!

Anak-anak sudah menikah dan membina rumah tangganya sendiri. Anda juga sudah pensiun dari pekerjaan dan punya banyak waktu bersama pasangan. Pada fase ini, Anda perlu menikmati segala yang telah Anda dapat selama perjalanan waktu. Tidak banyak yang perlu Anda hadapi lagi di fase ini, selain menyongsong hari tua bersama pasangan, sambil selalu menjalin kedekatan dengan anak dan cucu.

sumber :http://id.berita.yahoo.com/kenali-5-fase-pernikahan-dan-tantangannya-071028645.html

Sabtu, 25 Juni 2011

Ingin Anak Cerdas? Jangan Telat Menikah dan Cari Wanita Cerdas!

Bagi anda para pria yang saat ini masih menikmati masa lajang, nampaknya jangan terlalu larut dalam kesendirian yang berkepanjangan. Bagi mereka yang saat ini masih memegang teguh prinsip “tua-tua kelapa, makin tua makin banyak santannya”, sebaiknya juga harus berpikir kembali tentang pendapat mereka tersebut. Apapun alasan anda, bila anda kini telah berusia di atas 30 tahun dan ideal untuk berkeluarga, dianjurkan untuk segera menikah.

Tahukah anda, pertimbangan yang paling urgensi untuk segera menikah adalah bahwa anak yang terlahir dari ayah yang berusia tua akan memiliki kemampuan berpikir (ber-IQ) rendah. Apalagi jika anda menginginkan keturunan berotak brilian, disarankan untuk menikah antara usia 20-30 tahun. Anjuran “jangan telat nikah” seringkali hanya ditujukan kepada kaum wanita. Padahal, jam biologis ternyata tidak mengenal gender.

Dalam sebuah penelitian di Negeri Paman Sam yang diketuai oleh John McGrath MD PhD, dari Queensland Brain Institute of the University of Queensland di Brisbane, Australia, dilaporkan bahwa bayi dan anak-anak yang terlahir dari ayah yang sudah berumur tua memiliki kecerdasan dan kemampuan berpikir lebih rendah. Hal ini merupakan yang pertamakalinya. Dalam penelitian tersebut diketahui dampak dari pria-pria yang telat menjadi ayah hingga usia 40 atau lebih. Menurut McGrath, “sekarang kami memiliki lebih banyak bukti bahwasanya faktor usia ayah berperan penting. Artinya, makin tua ayah, makin jelek pula hasil tes kecerdasan sang anak.”

McGrath bersama timnya mengumpulkan data 33.000 anak di Amerika Serikat yang lahir antara tahun 1959-1965 dari ayah berusia 15-65 tahun. Dalam penelitian tersebut dilakukan analisis terhadap hasil tes kognitif yang dilakukan anak-anak tersebut saat berusia 8 bulan, 4 tahun, dan 7 tahun. Tes tersebut meliputi evaluasi kemampuan anak untuk berpikir dan menganalisis, konsentrasi, belajar, berbicara, membaca, aritmatika, mengingat, serta kemampuan motorik seperti koordinasi tangan dan mata. Hasilnya adalah bahwa makin tua usia sang ayah, makin rendah pula skor kecerdasan anaknya. Sebagai contoh, anak yang terlahir dari ayah berusia 20 tahun memiliki skor tes IQ rata-rata 106,8 poin. Sementara anak yang terlahir dari ayah usia 50 tahun rata-rata skornya lebih rendah, yaitu 100,7.

Keterkaitan antara faktor usia ayah dan IQ yang rendah, menurut Mc-Grath, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah mutasi. Sperma diproduksi di dalam tubuh pria seumur hidup. Makin tua umur seorang pria, spermanya akan semakin mudah mengalami mutasi, yaitu salah mengartikan kode DNA. Akibatnya, perkembangan otak bayi dan anak akan terganggu. Hormon terpenting pria, yakni testosteron, mulai menurun pada usia 30, sehingga pria dianjurkan memiliki anak sebelum usia 30.

Menurut seorang psikiater Mary Cannon MD, dari the Royal College of Surgeons di Dublin, Irlandia, “telat menjadi ayah juga akan berdampak signifikan, baik terhadap kondisi fisik maupun psikologis anak”. Ia mengingatkan beberapa faktor risiko dari telat menjadi ayah. Mulai penurunan skor IQ anak sebanyak 3-6 poin, hingga risiko penyakit mental serius seperti skizofrenia dan autis.

Kecerdasan anak ternyata juga dipengaruhi oleh faktor genetik seorang Ibu. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Dr Ben Hamel, pengaruh tersebut sangat besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu. Ibu yang cerdas berpotensi besar melahirkan anak yang cerdas pula. Dalam keadaan normal, setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri atas 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom seks.

Kromosom yang berasal dari ibu sebanyak 23 disebut kromosom XX. 23 pasang lagi berasal dari ayah yang disebut kromosom XY. Kromosom dari ayah dan ibu akan bergabung saat terjadinya fertilisasi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur yang akan menghasilkan zigot. Kemudian zigot akan melakukan pembelahan sel secara mitosis sehingga setiap sel dalam tubuh manusia akan membawa informasi genetik yang sama.

Genetika yang diturunkan dari kedua orang tua, berupa asupan gizi dan rangsangan dari luar. Kebutuhan gizi anak yang tercukupi serta interaksi orang tua dan anak akan mempengaruhi perkembangan otak yang sempurna. Sehingga kecerdasan yang sebenarnya itu adalah akumulasi dari genetik, asupan gizi dan rangsangan dari luar. Kesimpulannya, walaupun orang tua mempunyai genetik yang baik, namun anak tidak diberi makanan yang dengan gizi yang baik dan tanpa dirangsang motorik halusnya, kecerdasan seorang anak takkan muncul dengan sempurna.

Oleh karena itu, bila anda menginginkan keturunan yang smart, bersegeralah untuk menikah. Carilah isteri seorang wanita yang cerdas yang kelak menjadi ibu bagi putera puteri anda. Karena kedua faktor tersebut sangat menentukan kecerdasan berpikir (IQ) seorang anak.


************


“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari sari pati tanah. Kami jadikan sari pati itu air mani yang ditempatkan dengan kokoh di tempat yang teguh. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, dari segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, Kami jadikan pula tulang-belulang. Kemudian tulang belulang itu kami bungkus dengan daging”. (QS Al Mu’minun 23 : 12 – 14).

“Kemudian Ia menyempurnakan penciptaan-Nya dan Ia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa tetapi sedikit sekali kamu bersyukur”. (QS As Sajadah 32 : 9).
[Ella Zulaeha, Kompasiana]

Rabu, 22 Juni 2011

Tipe kepribadian dengan MBTI

Membaca kepribadian dan karakteristik seseorang adalah ilmu yang sangat menarik. Sebab kita secara alami tertarik pada diri sendiri dan hubungan sosial dengan orang lain. Mungkin kita pernah mendengar tipe-tipe kepribadian seperti kholeris, sanguinis, melankolis & phlegmatis. Tetapi, sampai hari ini belum ada teori maupun alat (tes) yang bisa menjelaskan 100% akurat mengenai kepribadian dan perilaku seseorang. Sebab manusia itu unik. Hampir tidak ada manusia yang sama satu sama lain, walaupun mereka kembar identik. 
Adalah  MYERS-BRIGGS TYPE INDICATOR (MBTI), sebuah alat test yang membuat teori tipe kepribadian C.G Jung (1921-1971) lebih mudah dimengerti dan digunakan untuk kehidupan orang banyak. MBTI ini berdasarkan pemikiran Jung mengenai persepsi, judgment dan sikap yang digunakan oleh setiap tipe yang berbeda dari individu. Persepsi adalah kemampuan psikologis individu untuk sadar pada hal-hal, orang-orang dan ide-ide. Judgment melibatkan berbagai cara untuk menyimpulkan apa yang telah dipersepsikan individu tersebut. Kalau orang berbeda satu sama lain ketika mempersepsikan sesuatu ketika melakukan judgment, maka perbedaan ini juga mempengaruhi minat, ketrampilan, nilai-nilai serta reaksi mereka. 

MBTI digunakan untuk mengidentifikasi, dari laporan diri seseorang, untuk mengenali reaksinya dengan mudah juga menjadi preferensi dasar dari orang-orang tentang persepsi dan judgmentnya. Dalam MBTI mengandung empat preferensi dasar (Index), seperti dalam teori Jung, yang langsung berhubungan dengan cara orang mempersepsikan sesuatu dan mengambil kesimpulan tentang hasil persepsi itu (judgment).

Extraversion-Intraversion (EI).
Index EI dirancang untuk merefleksikan apakah seseorang itu extravert atau introversi. Jung (dalam Myers & McCaulley, 1985) sendiri mengatakan bahwa extraversion dan intraversion ini “saling melengkapi”. Perbedaannya adalah bagaimana seseorang memelihara tegangan antara hal-hal yang individual atau hal-hal yang bersifat dunia luar yang sama-sama dibutuhkan dalam hidup orang tersebut. Seorang yang extravert  berorientasi pada dunia luar; jadi mereka cenderung untuk lebih fokus pada persepsi dan judgment mereka pada orang-orang lain dan benda-benda. Di lain pihak seorang introvert yang orientasinya terutama pada dunia dalam cenderung lebih fokus pada persepsi dan judgment tentang konsep-konsep dan ide-ide.

Sensing-Intuition (SN)
Index SN dirancang untuk merefleksikan  preferensi seseorang pada dua cara yang bertolakbelakang dalam mempersepsikan sesuatu. Tipe S lebih mengandalkan proses persepsi kenyataan, data dan kejadian yang dapat diobservasi dengan kelima indra. Sedangkan N tidak terlalu mengandalkan observasi fakta-fakta tetapi mempersepsikan sesuatu dengan menghubung-hubungkan arti dan/atau kemungkinan-kemungkinan yang melewati kesadaran yang konkrit.

Thinking-Feeling (TF)
Index TF dirancang untuk menggambarkan preferensi seseorang tentang dua cara judgment yang kontras. Seseorang dapat tergantung pada pemikiran (T) ketika memutuskan sesuatu berdasarkan konsekuensi logis yang tidak melibatkan perasaannya atau seseorang lain (F) yang mengandalkan nila-nilai pribadi dan sosial ketika mengambil keputusan.

Judgment-Persepsi (JP)
Index JP dirancang untuk menggambarkan proses yang dilakukan seseorang ketika berhadapan dengan dunia luar. Ada orang yang memilih menggunakan kemampuan judgmentnya (apakah itu thinking atau feeling) ketika berhadapan dengan dunia luar (J) dan ada orang yang lebih cenderung menggunakan proses persepsinya (baik S atau N) ketika berhubungan dengan dunia luar (P)

Bandingkan sekarang dengan kartu Tarot (nusantara-red) sebagai pola dasar yang dapat berhubungan dengan Psikologi Analitis. Carl Gustav Jung  yang memberikan gambaran  terutama pada Arcana Mayor, dapat digunakan secara efektif dalam terapannya. Kita, dengan bantuan terapis, melaksanakan, membaca atau menggunakan beberapa kartu untuk menceritakan sebuah cerita dan kemudian mendiskusikan kemungkinan arti dari simbol-simbol dalam kata-kata sendiri. Kita kemudian menghubungkan arti simbolis  dalam masalah kita dengan banyak cara yang sama seperti dalam analisis-analisis  Jung.

Proses tebaran bisa dijelaskan dengan menggunakan model Kemungkinan dan Kekacauan/acak.  Dimana setiap kartu-kartu yang disebarkan memberikan kesempatan bagi kita menggerakkan stimulasi pikiran bawah sadar  dan menuntun kita untuk menggunakan perubahan-perubahan yang diinginkan.  Memang terkesan pola yang acak, spontas dan mengikuti naluri ketika mengambil kartu, memberi kesan sebagai sebuah permainan yang berlangsung melalui proses pilihan, stategi, peristiwa acak, penemuan dan  insprasi. Tetapi sesungguhnya cara yang konvensional  ini memberi peluang yang efektif sebagai alat belajar dan bila hal ini dikorelasikan dengan ‘permainan’ yang  digunakan dalam berbagai alat penilaian, seperti Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) yang mengukur IQ dengan memanfaatkan teka-teki dan Tematik Apperception Test (TAT) yang menggunakan foto ambigu untuk merangsang bercerita proyektif , akan sangat mirip kesamaannya.

Ketika  dapat  digunakan sebagai alat psikologis untuk melihat ke dalam ketidak-sadaran. Dan ketika Tarot sangat dihormati Rorschach dan tes Apersepsi Tematik (Schueler & Schueler, 1994). Maka Tarot mampu  menggambarkan sebagai  "sistem yang bisa  diterima oleh banyak sumber terhormat seperti  Carl G Jung, yang melihat sebagai  pola kesempurnaan dengan pola dari ketidak-sadaran kolektif"

Carl Gustav Gustav  melihat semua gambar Tarot sebagai "turun dari pola transformasi". Pola ini meliputi beberapa pola utama yang dihadapi selama proses pematangan psikologis yang ada dalam pikiran dan tubuh manusia , termasuk bayangan, anima dan rasa permusuhan, orang tua yang bijak dll. Didalam Tarot juga berisi simbol yang mewakili pola penting lainnya dari proses transformatif seperti pola Ibu (Ratu.III), Ayah (Raja.IV), Kebijaksanaan (Ahli Tafsir Agama.V), Pengorbanan (Laki-laki tergantung.XII), Keseimbangan (Kesederhanaan.XIV), dll. Dalam psikologi analitis Jung, pola ini terdiri dari komponen dinamik utama ketidak-sadaran yang mempengaruhi jiwa manusia dengan berbagai cara.

Dengan demikian ini adalah sebuah sistem yang saling berhubungan , dinamis, komplek dan pola sistem kehidupan (biasanya disebut sebagai sistem yang mengatur dirinya sendiri ) dan ini merupakan tatanan struktur Disipatif yang oleh  I.Prigogine pemenang Hadiah Nobel Kimia 1977 mendefinisikan sebagai struktur yang mengambil dan menghilangkan ‘energi ‘ seperti kita berinteraksi dengan lingkungan dan alam. Sebuah sistem disipatif, tidak harus  menghemat energi, tetapi  menimbulkan proses tersendiri  seperti pertumbuhan organisme berpengaruh terhadap pola dan sistim lingkungan. (Nicolis & Prigogine, 1989).

Kita (manusia) adalah sistem yang selalu menunjukkan ketidak-seimbangan hidup dan  sistem disipatif adalah mereka yang mampu mempertahankan identitas diri kita, hanya karena kita mau terbuka untuk  menerima aliran energi, materi atau informasi dari lingkungan kita sendiri.  Dan tidak hanya tubuh kita yang memiliki sistem disipatif, tapi jiwa kita juga. Ego, yang  ditunjuk oleh Jung sebagai ego kompleks, karena berbagai komponen dan proses  terbentuk dengan sendirinya,  ia juga mengajarkan bahwa ego merupakan hal kompleks yang ada di dalam jiwa. "Jiwa adalah sebuah sistem yang mengatur diri sendiri yang menjaga keseimbangannya sama seperti tubuh ini" (Jung, 1954/1985). Dan menunjuk jiwa menjadi sistem yang mengatur diri sendiri, (Jung - 1968), dipertegas juga bahwa "Mimpi adalah reaksi alami dari sistem psikis mengatur diri sendiri". Dengan asumsi jiwa menjadi sistem dinamik yang kompleks, serta sistem disipatif, kita bisa melihat melalui lensa pengetahuan modern.

Dengan demikian Jung  menganggap bahwa psike manusia memiliki lapisan-lapisan, dan proses mengintegrasikan lapisan-lapisan tersebut dilakukan melalui perluasan tingkat kesadaran dan Jung menyebutnya sebagai layers of psyche function karena adanya energi pada setiap lapisan. Energi-energi tersebut mengekespresikan dirinya dalam sebuah mode karakteristik  dari berfungsinya kepribadian. Maka Jung mengidentifikasikan lapisan-lapisan dari fungsi ini dalam tipologi Tarot seperti yang dijelaskan diatas melalui alat test MBTI yaitu:


                                            Tipologi Jung dan Kategorisasi dalam Tarot 

Teori Jung mengajarkan bahwa mimpi adalah sebuah gambar yang harus dipahami secara simbolis dan pola dasar insting yang mendorong untuk terbukanya simbol, interpetasi inilah yang membedakan dengan tanda atau sinyal.

Sebuah pemahaman tentang simbol  yang benar sesungguhnya tidak pernah dapat sepenuhnya dijelaskan secara detail, tetapi sebuah tanda dapat sepenuhnya dijelaskan sejauh ego sadar yang bersangkutan telah berfungsi. Simbol sendiri adalah sebuah pola dasar, dan kita menyajikannya secara lisan dalam bentuk tanda.  Sehingga kita dapat mengatakan, bahwa pada akhirnya intrepetasi yang kita katakan adalah sebuah pawenjatahanan simbol tipikal.

Kemudian Jung juga menyatakan bahwa "Dalam mimpi kita, kita hanya sebagai bersegi banyak seperti dalam kehidupan sehari-hari kita, dan hanya karena Anda tidak bisa membentuk sebuah teori tentang aspek-aspek banyak kepribadian sadar, maka anda tidak dapat membuat teori umum dari mimpi". Lalu ia juga menunjukkan bahwa sementara simbolisme mimpi pribadi bervariasi dengan pemimpi, impian simbolisme universal adalah memungkinkan untuk ditafsirkan. "Pada tingkat kolektif mimpi, praktis tidak ada perbedaan dalam diri manusia, sementara ada perbedaan pada semua tingkat pribadi". Ketika menganalisa mimpi, Jung menunjukkan bahwa kita; "menolak semua pendapat yang terbentuk sebelumnya, namun tahu bahwa mereka membuat kita merasa, dan mencoba untuk menemukan hal-hal yang berani  bagi klien". Maka kita harus mempertimbangkan karakteristik  kepribadian, agama, dan keyakinan moral setiap kali kita membahas simbolisme mimpi.

Seorang psikolog Nichols Amerika mengatakan bahwa "Gambar-gambar pada kartu Tarot menceritakan kisah simbolik seperti impian kita, ia datang kepada kita dari tingkat yang di luar jangkauan kesadaran dan jauh dari pemahaman intelektual kita". Menurut pandangan ini, kartu Tarot dapat diinterpretasikan dalam cara yang sama dengan analisis mimpi Jung.

Maka dengan  pola-pola kemungkinan pada setiap permainan Tarot akan sangat memungkinkan  mendorong intusisi kita mengejar impian-impian yang tertanam dalam bawah sadar dan merefleksikan dengan cara-cara pengambilan yang acak. Mari kita mencoba dan melakukan kajian spesifik dengan menggunakan karakteristik MBTI, dan dinamika kepribadian dengan Tarot Psikologi untuk menemukan resolusi pada tiap permasalahan sesuai dengan tipe kepribadian. Selamat Mencoba ....


Hisyam A Fachri
Consultant and Therapist Mind Hypnosis in Psychological

Selasa, 21 Juni 2011

Kata-kata Mutiara

Nabi Muhammad saw bersabda;
"Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu di suatu hari dia akan menjadi musuhmu; dan bencilah orang yang engkau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu di suatu hari dia akan menjadi kecintaanmu."
(HR. At Tirmizi)

Mencintai dunia akan merusak akal, membisukan hati dari mendengarkan hikmah, dan menyebabkan siksaan yang pedih.
(Ali bin Abi Thalib)
Yakin kepada Allah merupakan harga dari segala sesuatu yang sangat mahal. Dan merupakan tangga bagi setiap tujuan yang tujuan yang tinggi dan agung
(Muhammad bin Ali Al Jawad) Hadapilah dirimu sendiri sebelum kau berhadapan dengan kehidupan setelah ini; dan pertimbangkan dulu perbuatanmu sebelum dipertimbangkan di neraca keadilan Tuhan; dan persiapkanlah dirimu untuk pemunculan yang dahsyat di hadapan tuhan.
(umar bin Khatab)

Cari dan taklukkanlah dunia hanya untuk beribadah kepada Allah SWT
(Al Ghazali)

Nabi Muhammad saw bersabda;
"Berangkat pada pagi hari atau sore hari di jalan Allah (berjihad) adalah lebih baik dari dunia dan semua isinya."
(HR. Bukhari)

Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya.
(Ali bin Abi Thalib)

Nabi Muhammad saw bersabda;
Allah azza wajalla berfirman: "Aku dalam sangkaan hamba Ku kepada Ku dan Aku bersamanya jika ia mengingat Ku. Maka, jika ia mengingat Ku pada dirinya, Aku akan mengingatnya pada diri Ku. Dan jika ia mendekat pada Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat padanya sehasta, dan jika ia mendekat pada Ku sehasta, maka Aku akan mendekat padanya padanya sedepa, dan jika ia datang pada Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan cepat-cepat.
(HR Bukhari)

Jika seorang hamba tulus ikhlas berbuat amal kepada Allah, maka Allah akan menampakkan kepadanya perbuatan-perbuatan yang tercela, sehingga ia hanya akan sibuk dengan dosa-dosanya daripada mengurusi aib orang lain.
(Ali Zainal Abidin)

Nabi Muhammad saw bersabda;
"Apabila kalian menginginkan kasih sayang dari Allah SWT dan Rasul Nya maka sampaikanlah amanat, jujurlah dalam berbicara, dan berbuat baiklah kepada orang yang menjadi tetangga kalian."
(HR. Tabrani)

Ibadah orang merdeka itu tidak lain kecuali syukur kepada Allah, bukan karena takut atau menginginkan sesuatu.
(Ali Zainal Abidin)

Nabi Muhammad SAW berdoa:
"Aku berlindung dengan kebesaran Mu yang tidak ada tuhan kecuali Engkau yang tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati."
(HR. Bukhari)

Nabi Muhammad saw bersabda;
"Perumpamaan orang yang ingat pada Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Nya seperti orang hidup dengan yang mati."
(HR Bukhari)

Menyembah Allah karena takut itu adalah ibadah hamba sahaya. Menyembah kepada Nya karena menginginkan sesuatu adalah ibadah para saudaga. Menyembah kepada Nya karena rasa syukur, itulah ibadah orang merdeka.
(Ali Zainal Abidin)

Nabi Muhammad saw bersabda;
"Jika berdiri bulu roma seorang hamba karena takut kepada Allah maka akan berguguran dosa-dosanya bagaikan gugurnya daun dari pohon yang telah kering
(HR. Abu Syaikh dan Baihaqi)

Nabi Muhammad saw bersabda;
"Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir."
(HR. Muslim)

Dunia itu bangkai. Jika seseorang menginginkannya, hendaklah ia sabar bergaul dengan anjing-anjing.
(Ali bin Abi Thalib)

Dunia hanyalah cita-cita yang sirna, ajal yang berkurang dan jalan menuju akhirat, serta perjalanan menuju kematian.
(Umar bin Khatab)

Nabi Muhammad saw bersabda;
"Dunia itu terkutuk dan terkutuk pula semua yang di dalamnya, kecuali dzikrullah (mengingat Allah) dan hal-hal yang berkaitan dengannya serta orang alim atau orang yang belajar (ilmu agama)."
(HR At Tabrani)

Jika dunia mendatangi seseorang maka dia akan mencela kebaikan orang lain. Jika dunia meninggalkannya maka dia akan menghilangkan kebaikan-kebaikan dirinya.
(Ali bin Abi Thalib)

Nabi Muhammad saw bersabda;
"Kiamat semakin dekat, sedangkan keinginan manusia terhadap perkara duniawi semakin menjadi-jadi, dan terhadap Allah mereka semakin bertambah jauh."
(HR Hakim)

Dunia adalah fitnah dan ujian, kapan pun ia datang atau pergi. Jika datang, kamu harus bersyukur. Jika pergi, kamu harus bersabar.
(Al Ghazali)

Dunia adalah surga orang kafir. Sesuatu yang cepat (dunia) itu adalah cita-citanya, kematian adalah kesengsaraannya dan neraka adalah tujuannya.
(Ali bin Abi Thalib)

Abdullah bin Mas'ud ra meriwayatkan;
Rasulullah tidur di atas tikat, kemudian ia bangun, sedang anyaman tikar itu telah berbekas di pinggangnya, maka kami berkata, "Ya Rasulullah, bagaimana jika kami membuatkan kasur yang empuk untukmu?" Jawab Nabi SAW, "Untuk apa dunia ini bagiku. Aku di dunia ini bagaikan seorang kelana yang berkendaraan, bernaung di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya."
(HR At Tirmizi)

Murah senyum itu bukti kasih, dan sabar itu kuburan aib.
(Ali bin Abi Thalib)

Sembunyikan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu.
(Al Ghazali)

Nabi muhammad saw bersabda;
"Sesungguhnya Allah itu tidk melihat pada bentuk rupamu dan hartamu, tetapi melihat kepada hati dan amalanmu."
(HR At Tabrani)

Janganlah anda berbicara kecuali yang perlu saja, sebab kalau anda mengucapkan satu kalimat berarti ia menguasai anda dan anda tidak bisa menguasainya.
(Imam Syafi'i)

Janganlah memandang kepada siapa yang bicara, tetapi perhatikanlah apa yang ia bicarakan.
(Ali bin Abi Thalib)

Syahwat akan menjadikan seorang raja sebagai hamba, sementara sabar akan menjadikan seorang hamba sebagai raja.
(Al Ghazali)

Kebajikan itu adalah suatu hal yang ringan, yakni menunjukkan muka yang berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut.
(Umar bin Khatab)

Waspadalah terhadap waktu luang karena ia lebih banyak membuka pintu maksiat daripada syukur.
(Umar bin Khatab)

Bergaullah dengan suatu manusia yang jika engkau mati mereka menangisi kepergianmu. Dan jika engkau masih hidup mereka merindukanmu.
(Ali bin Abi Thalib)

Jika engkau telah mengalahkan musuhmu maka jadikanlah sifat pemaaf kepadanya sebagai rasa syukur atas kemenangan terhadapnya.
(Ali bin Abi Thalib)

Tidak ada kegembiraan yang menyamai perjumpaan dengan sahabat, dan tidak ada kesedihan yang menyamai perpisahan dengan mereka.
(Imam Syafi'i)

Seseorang yang mengikuti hawa nafsunya, berarti menyerah kepada keinginan musuhnya.
(Muhammad bin Ali Al Jawad)

Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian.
(Umar bin Khatab)

Seseorang yang tidak sabar menghadapi teguran yang tidak menyenangkan, harus belajar lebih banyak mendengar.
(Ahnaf bin Qays)