Tampilkan postingan dengan label Seputar Trainer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Trainer. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

Spiritual Trainers

Dunia permotivasian di Indonesia semakin marak sejak tahun 80-an. Pelatihan-pelatihan motivasi pada tahun-tahun tersebut banyak berlandaskan kepada pendekatan Achievement Motivation Training (AMT) atau pelatihan peningkatan motivasi. Pelatihan AMT ini berbasiskan kepada perubahan perilaku dengan menggali potensi diri. Setelah sebelumnya pelatihan-pelatihan model Dale Carnegie menjadi trend-setter dunia motivasi Indonesia.

Pada dekade 90-an, dunia motivasi di Indonesia kembali marak dengan mulai diperkenalkannya sebuah teknologi motivasi yang paling anyar. Para motivator menyebutnya dengan teknologi bahasa syaraf atau Neuro Linguistic Programming (NLP). Teknologi NLP berasal dari Amerika Serikat yang merupakan kelanjutan dari psikologi gestaalt. Teknologi baru ini memperkenal perubahan dengan merubah semantik dan perubahan sikap fisik. Perubahan ini menghasilkan perubahan pada syaraf dan berdampak lebih lama dalam daya tahan motivasi dan waktu perubahannya.

Di era tahun 2000-an teknologi motivasi kembali hadir dengan teknologi lama namun baru. Yakni teknologi perubahan langsung ke titik mindset atau paradigma. Teknik-teknik perubahan ini merupakan gabungan dari teknologi NLP dan ilmu hypnotherapi. Perubahan yang dihasilkan lebih langgeng dengan waktu perubahan yang lebih cepat. Namun masih banyak bolong-bolong yang perlu diperbaiki oleh para motivator muslim untuk teknologi hipnosis dan NLP ini. NLP merupakan teknologi yang lahir dari masyarakat sekuler, yang memisahkan Tuhan dengan kehidupan. Jadi, akan banyak bolong-bolong ketika kita dekatkan dengan metodologi ilahiah.
Secara umum di dunia permotivasian di Indonesia diisi oleh 2 kutub motivator. Kutub sekular dan kutub spiritual. Walupun dalam praktiknya agak susah membedakan kedua kutub ini. Karena kutub motivator sekular sekali pun mempercayai adanya kekuatan spiritual dalam motivasi, namun bukan sebagai hal yang utama.
Akhir-akhir ini seakan-akan terlihat adanya kecenderungan pergeseran motivasi ke arah yang lebih spiritual. Kecenderungan ini mulai meningkat sejak diperkenalkannya pelatihan model ESQ yang dapat diterima oleh hampir banyak kalangan. Kemudian model-model pelatihan ini banyak diduplikasi oleh para motivator lainnya. Selain itu kehadiran dai kondang AA Gym dalam kancah dunia permotivasian ikut meramaikan metode motivasi spiritual ini. Saat ini mulai pula muncul para motivator-motivator dengan berlatarbelakang kampus yang sebagian besar “lahir” dari lembaga-lembaga dakwah.

Kecenderungan motivasi yang mulai mengarah menuju lebih spiritualis, sebenarnya juga telah dimulai dari luar. Di Amerika misalnya, kita mengenal tokoh-tokoh seperti Zig Ziglar, Stephen Covey, Maxwell dan lain-lainnya yang merupakan “aktivis” gereja. Sehingga muncullah geliat baru dari inspirasi-inspirasi motivasi yang lebih “berbau” spiritual. Di Indonesia pun pelatihan-pelatihan yang menggabungkan motivasi dengan kemasan spiritual atau pengajian-pengajian yang dikemas sebagai inspirasi motivasi berkembang dengan subur saat ini. Hal ini semakin dipersubur dengan krisis yang beberapa kali mendera negara kita. Banyak orang berubah menjadi lebih spiritual dan membutuhkan inspirasi-inspirasi yang ”basah” dan motivasi-motivasi yang lebih mendekatkan diri pada Allah, Sang Khaliq.


Arah perkembangan motivasi menjadi lebih spiritual, bukan hanya disebabkan karena keringnya secara spiritual masyarakat dunia, namun juga karena motivasi spiritual telah terbukti berhasil membangun karakter dan membangkitkan manusia. Para Rasul yangdiutus Allah SWT semuanya merupakan motivator handal, dengan metodologi Ketuhanan. Mereka berhasil membangun masyarakatnya dan membangkitkan masyarakat secara massal.

Muhammad SAW, sudah diakui oleh banyak kalangan, baik musuh maupun sahabat, sebagai tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Beliau berhasil membangkitkan kaum Quraiys Mekkah menjadi tokoh-tokoh terkemuka hanya dalam tempo kurang dari 25 tahun. Mereka kemudian menjadi masyarakat yang gemilang dalam peradaban manusia, dan hal ini tidak terbantahkan oleh siapapun.

Kalau Anda ingin termotivasi maka kembalilah ke motivasi spiritual dan kalau Anda seorang motivator, jadilah motivator yang spiritual. Karena ajakan Anda akan abadi dan berbekas serta akan menjadi warisan (legacy) Anda di dunia, dan jadi tabungan di akhirat kelak .Jadi.... kembalilah ke Al Quran dan ajaran-ajaran luhur Rasulullah SAW, agar kita bangkit dan selalu termotivasi. Be spiritual, be motivate.... Salam sukses berkualitas.

[1] sumber : Tulisan untuk sebuah majalah Ekonomi Syariah di Jakarta oleh Zulfiandri.

Minggu, 17 Oktober 2010

Trainerpreuner? Siapa TAKUT !


           Belum lama berselang saya terpesona oleh konsep dan pengertian dari sebuah istilah yang baru saya kenal: mikropreneur. Setelah membaca beberapa uraian mengenai istilah tersebut, saya kira kata “mikropreneur” dapat dipergunakan untuk menjelaskan fenomena maraknya sebuah profesi yang untk mudahnya saya sebut dengan istilah trainerpreneur.

Dari studi sederhana yang sempat saya lakukan, pengertian mikropreneur menunjuk kepada seorang entrepreneur yang mau menerima risiko untuk memulai dan mengelola jenis usaha yang akan tetap kecil (skala tertentu), yang memungkinkan dirinya memilih pekerjaan yang memang ia sukai, dan membuatnya bisa menjalankan gaya hidup seimbang sesuai nilai-nilai yang ia yakini.

Perbedaan antara mikropreneur dengan pegawai negeri maupun swasta pada umumnya terletak dalam sedikitnya enam hal. Pertama, mikropreneur fokus pada peluang, bukan pada rasa aman. Kedua, ia fokus pada apa yang laku di pasar, bukan pada apa yang ia ketahui. Ketiga, ia berorientasi pada hasil, bukan pada menjalankan rutinitas. Keempat, ia memikirkan soal perolehan keuntungan, bukan pada peroleh gaji tetap. Kelima, mikropreneur senang mencoba ide-ide baru, bukan pada usaha menghindari kesalahan. Dan keenam, ia terpesona terhadap suatu visi jangka panjang, bukan pada kenikmatan jangka pendek.
Jelas bahwa mikropreneur bukan pegawai. Namun bagaimana ia dibedakan dengan apa yang galib disebut sebagai entrepreneur?

Perbedaan mikropreneur dengan entrepreneur dalam pengertian konvensional sedikitnya nampak dalam tiga hal. Pertama, mikropreneur bukanlah pengambil risiko yang besar. Ia bukanlah orang sehebat Ir. Ciputra yang sejak muda berambisi besar untuk mengubah wilayah tandus menjadi kota, mengubah sampah menjadi emas. Ia juga bukan orang seperti Mochtar Ryadi dan anak cucunya yang memiliki nyali luar biasa untuk mengambil risiko-risiko raksasa. Mikropreneur mengambil risiko tertentu juga, tetapi dalam skala yang relatif kecil.
Perbedaan kedua adalah soal motivasi. Motivasi utama seseorang memilih jalur menjadi mikropreneur adalah pertama-tama dan terutama kebebasan. Ambisinya kepada kebebasan lebih besar ketimbang ambisi terhadap kekayaan finansial. Ini disebabkan oleh pilihan nilai-nilai tertentu yang dianutnya. Misalnya, sejumlah kawan di Jakarta memilih menjadi mikropreneur semata-mata karena mereka tidak ingin menghabiskan waktu 3-4 jam sehari di jalanan yang macet setiap hari. Mereka ingin punya waktu lebih banyak untuk melakukan hal lain yang disukainya; atau lebih memberikan waktu untuk pasangan hidup, anak-anak, atau anggota keluarga lainnya. Pada satu sisi mereka merasa bekerja sebagai pegawai di Jakarta—dengan tempat tinggal yang terletak jauh dari kantor, dan pertumbuhan penghasilan yang berkejaran dengan inflasi—adalah pilihan yang tidak rasional. Belum lagi soal rutinitas pekerjaan yang tidak memberikan tantangan bagi pertumbuhan mental-emosional-spiritualnya. Pada sisi lain, mereka sebenarnya tidak bercita-cita besar untuk menjadi konglomerat atau taipan yang memimpin usaha skala nasional dan internasional. Posisi mikropreneur terjepit di antara pegawai dan entrepreneur skala besar.

Perbedaan ketiga harus ditambahkan sebagai bagian yang tak terpisahkan, bahwa mikropreneur adalah seorang yang terpelajar. Meski mereka belum tentu orang yang memiliki banyak gelar akademis, namun mikropreneur adalah orang yang senang belajar dan karenanya pro-perubahan. Karena itu jenis usaha yang dilakukan oleh mikropreneur umumnya lebih mengandalkan kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang memang diminatinya. Mereka terus belajar meningkatkan kompetensinya dan menghasilkan karya-karya yang menunjukkan ciri-ciri hakiki dari kaum terpelajar.
Berdasarkan pemahaman di atas, saya menggunakan istilah trainerpreneur untuk menunjuk kepada mikropreneur yang menekuni bidang pelatihan. Sebab trainerpreneur memenuhi semua ciri dari apa yang disebut mikropreneur itu. Mereka bukan pegawai karena mereka fokus pada peluang; menyimak pada apa yang laku di pasar; berorientasi pada hasil; memikirkan soal perolehan keuntungan; senang mencoba ide-ide baru; terpesona terhadap suatu visi jangka panjang yang menyangkut peran mereka dalam membangun manusia-manusia Indonesia yang lebih baik.

Trainerpreneur bukan entrepreneur dalam pengertian konvensional, sebab mereka bukan pengambil risiko besar; mereka mengutamakan kebebasan di atas keberhasilan finansial; dan tentu saja mereka senang belajar. Seorang entrepreneur belum tentu bisa dan belum tentu berminat untuk memainkan peranan sebagai trainerpreneur, demikian juga sebaliknya.
Dalam pengamatan saya, profesi sebagai trainerpreneur tumbuh dan berkembang di Indonesia hampir bersamaan dengan munculnya profesi perencana keuangan, yakni dalam satu dekade terakhir, bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru. Bak cendawan di musim penghujan, makin banyak orang tertarik untuk menjadi trainer dan pembicara. Media cetak dan elektronik juga mulai memberikan tempat khusus terhadap mereka yang berkecimpung dalam bidang ini. Kolom-kolom di media cetak, unjuk bicara di radio dan televisi semakin marak dengan kehadiran mereka.

Sudah bertahun-tahun saya memikirkan cara untuk mendorong munculnya trainerpreneur-trainerpreneur baru di negeri ini. Sebab saya berkeyakinan bahwa kehadiran mereka akan memberikan dampak positif bagi pembangunan manusia-manusia Indonesia dalam jangka panjang. Dan akhirnya saya menemukan kawan seiring untuk bekerjasama dalam soal ini: Hari Subagya. Lewat program Train and Grow Rich yang dirintisnya tahun 2008 lalu, kami memutuskan untuk mulai bergerilya memasarkan profesi trainerpreneur di tahun-tahun mendatang.

*Andrias Harefa
The Real Indonesian Trainer
Penulis 30 Buku Best-seller

Senin, 27 September 2010

Teknik Memotivasi

 
              Dalam rangka menulis sebuah buku motivasi dan pengembangan diri, saya belajar keras meneladani para pembicara dan penulis motivasi, tentang bagaimana cara mereka menyampaikan materinya.

Selama ini, kita mengenal ada dua macam pembicara motivasi terkait dengan teknik-teknik motivasinya:

1. Ada pembicara motivasi yang mengambil jalur "inspirational speaker" seperti yang ditempuh Pak Jamil Azzaini yang dengan tegas membranding diri sebagai Inspirator SuksesMulia.

Ciri dari gaya ini adalah banyaknya mereka menggunakan pendekatan metafora, indirect command, permainan emosi, dan story telling.

Keindahan mereka ada pada kemampuan mereka dalam menyiratkan sesuatu secara halus dan bisa langsung masuk ke wilayah bawah sadar - kita tahu, bawah sadar punya dominasi kuat pada sikap dan perilaku.

2. Ada pembicara motivasi yang kita kenal dengan sebutan "motivational speaker". Saya cukup yakin bahwa sebagian besar pembicara motivasi dan para trainer adalah termasuk kelompok ini.

Ciri dari gaya ini adalah positioning mereka yang lebih banyak menjadi pendorong semangat dengan pendekatan-pendekatan logis dan masuk akal, atau dengan pendekatan direct command.

Keindahan mereka terletak pada kemampuan mereka untuk mempengaruhi orang lain untuk teryakinkan atau melakukan sebuah tindakan.

Saya menemukan, bahwa lebih jauh lagi dari kedua hal di atas, fenomena budaya Indonesia dan sekaligus fenomena Bahasa Indonesia, ternyata memberi peluang lebih luas dan lebih dalam terkait dengan teknik-teknik motivasi yang mungkin kita kembangkan di negeri ini.

Saya menyederhanakannya dengan dua pendekatan:

1. Macro Motivation

Yaitu sebuah model pendekatan teknik motivasi, yang berfokus pada gambaran besar suatu topik motivasional. Seorang pembicara motivasi yang berbicara tentang "Kita Pasti Bisa", akan mengeksplorasi segala hal di seputar topik itu, dalam rangka mempersuasi pembaca atau audiencenya untuk mengadopsi sebuah keyakinan atau mengambil tindakan. Dalam pendekatan ini, yang cenderung praktis, sang pembicara motivasi tidak terlalu memperhatikan bagaimana ia menggunakan kata-kata dan sistematikanya, melainkan hanya berfokus pada hasil akhirnya yaitu audience yang teryakinkan untuk mengambil tindakan. Rata-rata pembicara motivasi bergerak di wilayah ini.

Keindahan gaya ini terletak pada pergeseran massive yang diciptakan, setidaknya di ruang kelas, dari audience yang seperti menjadi orang lain dan berbeda antara pagi hari ketika mereka memasuki kelas dan sore hari ketika mereka meninggalkan ruangan.

2. Micro Motivation

Yaitu sebuah model pendekatan teknik motivasi, yang berfokus tidak hanya pada gambaran besar topik, melainkan juga mempertimbangkan berbagai detil bahkan sampai yang terkecil. Bukan tidak mungkin, sang pembicara motivasi dalam hal ini, melakukan riset yang mendalam tentang alternatif-alternatif proyeksi dampak dari berbagai cara penyampaian materi.

Keindahan gaya ini, adalah pada kemampuan pembicara motivasi itu sendiri dalam menggiring audience atau pembaca memasuki sebuah state, dan dengan handalnya mereka dipertahankan tetap berada di sana secara asosiatif. Selain itu, pembicara motivasi yang demikian sangat piawai dalam meng-utilisasi berbagai konsep paling mendasar di dalam dunia motivasi, yang terus mereka pertahankan di sepanjang sesinya, melalui disain yang apik.

Saya punya dua contoh yang menarik tentang model ini. Dua contoh itu adalah dua orang pembicara motivasi yang sangat luar biasa. Saya pribadi belum pernah belajar langsung kepada mereka, saya hanya baru belajar dari kata-kata mereka yang saya dengar atau saya baca.

Yang pertama adalah Kang Zen alias Nunu Zainul Fuad, yang selalu dan selalu memperhatikan rhyme di dalam materi-materi motivasinya. Rhyme adalah keindahan bunyi dari kata-kata, yang secara hipnotik membuat orang sangat menikmati iramanya, sehingga tidak punya kesempatan untuk melakukan "penolakan" terhadap isi dari materi. Pendekatan ini mirip dengan teknik metafora dan story telling yang punya dampak sama; jalur bebas hambatan melewati RAS dan langsung menuju ke wilayah bawah sadar.

Yang kedua, tentu saja Pak Mario Teguh, yang tak bisa dipungkiri menjadi salah satu yang terbaik saat ini. Saya cukup detil mengobservasi beliau demi pembelajaran saya, dan saya sharing sedikit di sini.

Pak Mario sangat super dalam memperhatikan dampak dari SETIAP kata-kata. Saya yakin beliau punya metodologi riset untuk yang satu ini. Kata-kata yang meluncur dari mulutnya, selalu berdampak pada hal-hal berikut ini:

- Menggiring audience atau pendengar memasuki sebuah state terkait konsep motivasi.
- Membuat audience atau pendengar terbuai dengan keindahan rhyme dan ritme dari kata-katanya.
- Mampu mempertahankan state itu di sepanjang sesi motivasinya.
- Mempu tetap menyuntikkan berbagai konsep dasar motivasi yang sebenarnya tidak langsung berhubungan dengan topik yang sedang di sampaikan, topik-topik mendasar yang menjadi keyakinan dasar setiap orang.

Contoh yang paling sederhana adalah seperti yang berikut ini.

Kita sangat terbiasa menggunakan pasangan kata-kata seperti "kekurangan" dan "kelebihan".

Pak Mario Teguh menggunakannya dengan berorientasi pada micro motivation.

Menggunakan pasangan kata itu, Pak Mario akan menyampaikannya begini:

"Kekurangan" dan "Pelebihan"

Dengan cara seperti di atas, inilah yang bisa saya amati:

- Kedua kata itu menjadikan konsep dasar motivasi "the power of contrast" - sebagai bagian dari teknik persuasi, menjadi lebih kuat.
- Di dalam kedua pasangan yang digunakan itu, makin menonjolkan konsep dasar motivasi "sabar, syukur, menerima" terimplikasi di dalamnya, dan secara tidak langsung berkonotasi dengan "kebaikan" dan "kepantasan" - dua kata yang menjadi favorit beliau.
- Kata "kekurangan" terasosiasi sebagai sesuatu yang melekat pada diri sendiri, dan kata "pelebihan" terasosiasi sebagai sesuatu yang diberikan oleh pihak lain, yaitu Tuhan. Di sinilah, permainan state beliau menjadi sangat luar biasa, terlepas dari segala kontroversi tentang tata bahasa.

Menarik bukan?

Semoga bermanfaat.

sumber : Ikhwan Sopa (Master Trainer E.D.A.N.)

Kamis, 24 Juni 2010

5 Level Trainer





Sebagai seorang Trainer Coach yang banyak mengajar para internal trainer di perusahaan (corporate trainer) maupun mereka yang tertarik untuk menekuni profesi mandiri sebagai trainerpreneur, saya membedakan orang-orang yang hadir dikelas—atau berkonsultansi dengan—saya dalam lima level kemungkinan. Pelevelan ini tidak disusun berdasarkan studi dan riset yang mendalam, tetapi juga tidak turun dari langit seperti wangsit paranormal. Dasar pelevelan ini secara hipotesis mencerminkan pengalaman dan pengamatan saya sendiri selama hampir 20 tahun berkecimpung di industri pelatihan (saya memperoleh sertifikasi formal pertama tahun 1991 dari Dale Carnegie Training dengan nilai terbaik untuk angkatan tersebut).

Trainer Level 0 (TL-0) adalah mereka baru menjadi peserta program pelatihan tertentu, dan tertarik untuk suatu hari nanti menjadi trainer yang membawakan materi yang sama. Mereka belum memiliki pengalaman sedikitnya pun mengenai materi pelatihan dan baru terbuka mata budinya ketika mengikuti pelatihan untuk pertama kalinya. Umumnya minat menjadi trainer tumbuh karena mereka merasakan dampak yang luar biasa dari proses pelatihan yang diikutinya. Pelatihan itu telah mengubah hidup mereka, sekali untuk selamanya. Umumnya TL-0 ini disebut trainee.

Trainer Level 1 (TL-1) adalah mereka yang sudah pernah mengikuti pelatihan tertentu—misalnya pelatihan Teknik Presentasi Efektif atau Selling Skill—dan kemudian ikut lagi sebagai alumni sekaligus asisten trainer yang bertugas. Peran mereka terbatas sebagai orang yang sudah tahu materi lebih dulu dan bisa menjelaskan apa yang akan dialami peserta dalam sesi-sesi pelatihan. Memimpin diskusi kelompok atau melakukan energizer adalah dua peran yang galib mereka lakukan. Di lembaga pelatihan seperti Dale Carnegie Training, TL-1 ini disebut sebagai graduate assistant. Umumnya kehadiran mereka bersifat sukarela dan mereka tidak mendapatkan imbalan finansial atas keterlibatannya itu.

Trainer Level 2 (TL-2) adalah mereka yang sudah memutuskan untuk menjadi full-time trainer, menjadi professional trainer. Mereka umumnya sudah masuk dalam suatu proses pembelajaran khusus untuk mendapatkan lisensi atau sertifikasi dari lembaga yang kredibel. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang sudah lulus sertifikasi. Namun baik mereka yang belum lulus maupun yang sudah lulus, saya masukkan ke dalam kategori TL-2 karena mereka melaksanakan pelatihan yang bersifat standar, ketat mengikuti instructor manual. Modul atau pun program pelatihan yang mereka bawakan bersifat standar dan mereka belum memiliki kemampuan untuk menyesuaikan materi guna kebutuhan spesifik klien (customizing). Dengan lain perkataan, mereka melaksanakan pelatihan sesuai dengan text-book atau instruction guide dari lembaga pelatihan yang memberikan sertifikasi atau lisensi kepada mereka. Sebagian besar internal trainers di perusahaan-perusahaan terkemuka adalah TL-2 ini. Sebagian trainerpreneur pemula yang masih dalam tahap perjuangan juga masuk dalam kategori ini. Dengan modal lisensi atau sertifikasi yang baru mereka peroleh, dari dalam atau pun luar negeri, mereka mencoba menawarkan jasanya ke masyarakat luas. Mereka masih sangat sering menggunakan istilah-istilah teknis yang memerlukan penjelasan bertele-tele, tetapi tidak memiliki manfaat praktis bagi peserta pelatihan.

Trainer Level 3 (TL-3) adalah trainer dengan jam terbang yang cukup untuk bisa melakukan berbagai proses customization sesuai kebutuhan klien atau peserta program pelatihan. Mereka bukan hanya mampu melakukan customization di dalam proses mengajar (in-class customization) untuk memenuhi kebutuhan spesifik peserta, tetapi juga bisa membuang dan menambahkan materi dari suatu program pelatihan (programme customization) untuk memenuhi kebutuhan mental-emosional pihak manajemen perusahaan—yang biasanya bukan peserta pelatihan, tetapi memiliki otoritas untuk menentukan jalan tidaknya sebuah pelatihan di perusahaan terkait. Artinya, TL-3 ini memiliki conceptual thinking yang cukup kuat dan mampu menyeimbangkan antara sistimatic thinking process dengan creative thinking process. Pada level ini berkumpul dua kelompok: pertama, para trainer-senior-gajian (internal trainers); dan kedua, trainerpreneur madya yang mulai mantap dengan pilihannya.

Trainer Level 4 (TL-4) adalah trainer dengan kemampuan merancang modul dan program pelatihan secara mandiri. Mereka tidak lagi sekadar mampu melakukan penyesuaian (customization), melainkan bisa merancang suatu program pelatihan yang baru secara lengkap (creating a new training programme). Artinya TL-4 bukan hanya mampu membuat modul pelatihan, tetapi juga mampu membuat instructor guide/manual agar pelatihan itu bisa dilakukan oleh pihak lain. Umumnya TL-4 juga telah memiliki karya tulis populer atau buku-buku berkualitas yang membuktikan kemampuan mereka berpikir secara mendalam dan konseptual. Mereka tidak lagi sekadar orang yang bisa mengutip pendapat dan pandangan pakar tertentu, tetapi juga sudah memiliki pandangan sendiri yang didasarkan pada argumen-argumen rasional yang tak mudah dipatahkan.

Kawan-kawan yang masuk kategori TL-4 adalah trainerpreneur dalam pengertian yang sesungguhnya. Mereka bukan trainer-gajian, tetapi entrepreneur dibidang pelatihan. Sebagian di antara mereka bahkan sudah berkolaborasi membangun tim kerja atau jejaring yang saling mendukung satu sama lain. Mereka secara relatif telah menemukan gaya dan metodenya yang unik untuk dikembangkan lebih lanjut.

Trainer level 5 adalah trainer dengan kemampuan melakukan standarisasi proses berpikir mereka, sehingga dapat mulai melakukan duplikasi secara sistematik untuk menjadi franchising business. Karakteristik utama mereka adalah kemampuan melakukan duplikasi diri tanpa mengorbankan kualitas pelatihan itu sendiri; dan kemampuan manajemen pemasaran yang juga terstandarisasi dengan baik. Dalam sejumlah kasus, TL-5 ini telah berhasil membangun tim kerja yang handal untuk melakukan proses penciptaan program baru dan proses pemasarannya sekaligus. TL-5 adalah trainerpreneur yang tidak saja menjadi kaya, tetapi kaya raya. Almarhum Dale Carnegie (1888-1955), Zig Ziglar, Stephen R. Covey, Anthony Robbins, Robert T. Kiyosaki, hanyalah sekadar contoh yang paling mudah disebut untuk menunjukkan sosok TL-5 ini.

Menjadi TL-5, itulah cita-cita yang pantas bagi setiap trainerpreneur di negeri ini. Cita-cita ini perlu dipancangkan dan kemudian diperjuangkan dengan gigih agar Indonesia tidak hanya menjadi ajang tempat penjualan jasa pelatihan asing. Sudah waktunya trainerpreneur-trainerpreneur yang berbakat besar untuk unjuk gigi memajukan negeri. Ary Ginanjar sudah merintisnya dengan pelatihan ESQ yang berkembang sampai ke mancanegara.

Siapakah yang siap untuk menyusul?

***

* Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan CARA CERDAS DAN PASTI: MENJADI TRAINER ANDALAN
(Sumber : Andrias Harefa)

7 Milyar !






“Berapa sih penghasilan yang bisa diharapkan oleh seorang trainer profesional di Indonesia?,” tanya seorang kawan dengan nada meremehkan profesi trainer. Ia bekerja sebagai pengusaha skala menengah dengan karyawan 100-an orang. Sebagai pemilik sebuah usaha dagang (trading company), ia sungguh tak paham siapa yang mau membayar jasa pelatihan yang ditawarkan para trainer. Baginya, trainer itu seperti pengajar sekolah atau dosen yang penghasilannya tidak menjanjikan untuk hidup secara memadai (menurut ukurannya, tentu). Saya menanggapi pertanyaannya dengan tersenyum. Belum tahu dia rupanya.


Dalam kesempatan lain, seorang pimpinan lembaga pengorganisasi pelatihan (training organizer) di Surabaya, berbisik pada saya, “Eh sudah tahu belum, trainer itu tahun lalu menambah kekayaannya sekitar Rp 7 M hanya dari kegiatan pelatihan saja. Rata-rata sebulan ia bicara di 15 pertemuan di berbagai kota besar dengan honor Rp 35 juta sekali bicara selama 3-4 jam.” Saya menanggapi bisikannya dengan senyuman. Sudah tahu dia rupanya.

Kawan lain, yang sudah fokus menafkahi keluarganya dari bisnis bicara (pelatihan) selama lima tahunan, suatu kali ditelepon mantan atasannya 7-8 tahun silam. Singkat cerita, sang mantan atasan di perusahaan lama yang sudah pindah ke perusahaan baru dan sekarang menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan multinasional itu, memerlukan manajer senior untuk bidang teknologi dan informasi. Terkesan atas kinerja kawan saya yang menjadi stafnya di masa lalu, maka ia ingin kembali mempekerjakan kawan saya itu dengan posisi, gaji, dan fasilitas yang jauh lebih baik. Kawan saya merespons ajakan tersebut dengan berkata mantap, “Maaf ya pak. Bukan apa-apa. Tawaran gaji yang bapak sebutkan tadi adalah honor yang saya terima sekali bicara selama 2 jam di pertemuan-pertemuan perusahaan yang mengundang saya. Jadi pasti tidak menarik buat saya. Dan lagi saya sudah bosan pak mengikuti ritme kerja tak masuk akal, bangun pagi menerobos kemacetan, dan pulang malam dengan masalah yang sama juga bertahun-tahun. Sekarang saya bebas menentukan jam kerja dan penghasilan tidak kalah dengan manajemen puncak perusahaan terkemuka. Maaf lho pak, bukan sombong, cuma sharing saja.” Mantan atasannya langsung bengong dan terkagum-kagum. Mendengar cerita itu, saya menanggapinya dengan senyuman. Sudah paham dia rupanya.

Cerita yang saya pungut dari ketiga kawan di atas cukup mewakili apa yang terjadi dengan profesi trainer hari-hari ini (saat tulisan ini dibuat). Sebagian besar orang masih belum tahu bahwa trainer mulai berkembang menjadi profesi di tanah air. Berkembang dalam arti kehadirannya mulai dirasakan, meski belum cukup dipahami. Ia muncul dan menjadi subur bersamaan dengan derasnya arus pembelajaran berkelanjutan. Makin banyak perusahaan menyediakan anggaran khusus untuk proses pembelajaran pegawainya. Secara pribadipun makin banyak orang yang bersedia mengeluarkan uang dari kantong pribadinya untuk ikut seminar dan pelatihan pengembangan diri dan kompetensi.

Munculnya sejumlah nama kondang sebagai pembicara publik dan trainer di tingkat nasional telah mengangkat citra profesi yang dua dekade silam masih samar-samar terdengar. Sebut saja sejumlah nama besar seperti Hermawan Kartajaya, Handi Irawan, Gede Prama, Rhenald Kasali, Mario Teguh, RH Wiwoho, Jansen H. Sinamo, Andrie Wongso, James Gwee, Tung Desem Waringin, Anthony Dio Martin, Arvan Pradiansyah, dan sebagainya. Masing-masing membangun brand-nya sendiri, entah sebagai World Marketing Guru, Motivator No.1 Indonesia, Guru Etos Indonesia, Indonesia’s Favorite Trainer, Pelatih Sukses No.1, Pakar Perubahan, dan lain-lain. Wajah, suara, karya tulis mereka terlihat, terdengar, dan terpampang di berbagai media cetak (koran, majalah) maupun elektronik (televisi, radio, handphone, dan internet).

Melihat kiprah nama-nama besar itu dijagat nasional, mulai banyak orang muda yang kepincut untuk bisa mencantumkan namanya sebagai trainer atau pembicara publik tingkat nasional. Penampilan fisik para trainer dan pembicara publik itu umumnya mengesankan bahwa mereka memperoleh imbalan finansial yang tidak kecil atas jasa yang diberikannya. Sebagian orang menjadi sangat yakin bahwa profesi trainer dan pembicara publik telah hadir dan pantas dijadikan cita-cita bagi kaum muda Indonesia. Dengan honor bicara sangat variatif, dari sekadar pengganti uang bensin Rp 500.000,- sampai dengan Rp 70.000.000,- untuk sekali bicara antara 50 menit sampai 8 jam, profesi ini menjadi pantas untuk diperhitungkan.

Sebagai Trainer Coach yang dianggap senior oleh kawan-kawan, saya sering ditanyai orang: sesungguhnya berapa besar sih potensi penghasilan yang bisa diharapkan oleh seorang trainer atau pembicara publik pemula di Indonesia?; apa benar orang bisa menjadi miliarder dalam waktu relatif singkat melalui profesi ini?; mengapa sejumlah trainer dan pembicara publik yang cukup dikenal, rumah dan mobilnya nggak bagus-bagus amat, sementara yang lainnya benar-benar hidup berkelimpahan nampaknya?

Ketiga pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban yang definitif (pasti). Banyak faktor mesti dikaji dengan teliti untuk mendapatkan jawaban yang akurat. Namun bisa dikatakan bahwa antara trainer pemula dengan trainer madya, dan trainer senior memiliki rentang penghasilan yang sangat lebar. Latar belakang seorang trainer bisa amat menentukan potensi penghasilan yang akan diperolehnya. Mereka yang berlatang belakang akademis akan berbeda dengan mereka yang berlatar belakang sebagai pebisnis atau manajemen puncak perusahaan terkemuka. Mereka yang bermain di sektor privat (perusahaan) akan berbeda pula dengan mereka yang terjun ke sektor publik (media massa, BUMN, pemerintah, dan organisasi politik).

Segala macam perbedaan itu terutama terjadi karena Indonesia memang belum memiliki semacam lembaga yang punya otoritas untuk menetapkan standar honor seorang trainer dan pembicara publik. Atas kenyataan ini ada kawan-kawan yang sedang berjuang untuk membentuk asosiasi pembicara atau asosiasi trainer dan sejenisnya untuk mengatur hal semacam ini dengan meniru apa yang sudah ada di negara lain. Sementara sebagian kawan yang lain berpendapat lembaga semacam ini memang tidak diperlukan dan biarlah pasar saja yang menyeleksinya secara alamiah.

Meski tidak ada patokan baku yang bisa digunakan untuk menentukan kisaran penghasilan seorang trainer pemula, namun secara “sembrono” saya suka mengatakan profesi trainer membuka peluang untuk memiliki penghasilan dalam rentang Rp 70 juta sampai Rp 7 miliar per tahun. Angka ini tidak jauh berbeda dengan profesi lain yang juga baru hadir di Indonesia dalam satu dekade terakhir, yakni: Financial Planner. Sebab sebagian Financial Planner yang saya kenal secara pribadi memainkan peran juga sebagai trainer dalam soal perencanaan keuangan.

Bisakah seseorang menjadi miliarder secara cepat lewat profesi trainer? Ini bergantung pada “seberapa cepat” yang dimaksud. Bila cepat itu diartikan dalam hitungan hari, mungkin tidak masuk akal. Namun jika cepat itu diartikan dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, secara umum saya asumsikan bisa walau tidak mudah. Yang paling mungkin adalah menjadi miliarder baru dengan menekuni profesi trainer selama kurang lebih 10-15 tahun.

Sependek pengetahuan saya, tidak semua trainer, yang namanya relatif terkenal sekalipun, memiliki penghasilan tahunan sampai 10 digit (miliaran). Sementara gaya hidup mereka pun sangatlah bervariasi. Ada trainer yang cukup kondang namun tidak punya rumah, meski punya uang lebih dari satu miliar di salah satu cabang Bank BCA. Dengan tekad mengumpulkan uang satu miliarnya yang pertama, trainer tersebut untuk sementara waktu memilih tinggal di rumah kontrakkan, dan menggunakan jasa transportasi umum untuk bepergian. Ada juga trainer yang punya rumah dan mobil mewah bahkan sebelum ia menekuni profesi sebagai trainer, sebab ia memiliki bisnis lain.

Akhirnya, berapapun penghasilan yang mungkin dicapai oleh seorang trainer di Indonesia, tulisan ini ingin menegaskan bahwa ia telah hadir sebagai profesi yang pantas untuk diperhitungkan.
Ada yang tertarik?

————————————————————————————————-
Catatan khusus: profesi trainer (pelatih) dan public speaker (pembicara publik) sesungguhnya tidaklah sama persis. Ada sejumlah perbedaan yang bisa dikemukakan, namun untuk kepentingan tulisan kali ini, keduanya saya anggap sama dalam arti sama-sama menawarkan jasa bicara. Saya akan membahas perbedaannya nanti dalam tulisan tersendiri.

(sumber : Andrias Harefa)