Minggu, 17 Oktober 2010

Trainerpreuner? Siapa TAKUT !


           Belum lama berselang saya terpesona oleh konsep dan pengertian dari sebuah istilah yang baru saya kenal: mikropreneur. Setelah membaca beberapa uraian mengenai istilah tersebut, saya kira kata “mikropreneur” dapat dipergunakan untuk menjelaskan fenomena maraknya sebuah profesi yang untk mudahnya saya sebut dengan istilah trainerpreneur.

Dari studi sederhana yang sempat saya lakukan, pengertian mikropreneur menunjuk kepada seorang entrepreneur yang mau menerima risiko untuk memulai dan mengelola jenis usaha yang akan tetap kecil (skala tertentu), yang memungkinkan dirinya memilih pekerjaan yang memang ia sukai, dan membuatnya bisa menjalankan gaya hidup seimbang sesuai nilai-nilai yang ia yakini.

Perbedaan antara mikropreneur dengan pegawai negeri maupun swasta pada umumnya terletak dalam sedikitnya enam hal. Pertama, mikropreneur fokus pada peluang, bukan pada rasa aman. Kedua, ia fokus pada apa yang laku di pasar, bukan pada apa yang ia ketahui. Ketiga, ia berorientasi pada hasil, bukan pada menjalankan rutinitas. Keempat, ia memikirkan soal perolehan keuntungan, bukan pada peroleh gaji tetap. Kelima, mikropreneur senang mencoba ide-ide baru, bukan pada usaha menghindari kesalahan. Dan keenam, ia terpesona terhadap suatu visi jangka panjang, bukan pada kenikmatan jangka pendek.
Jelas bahwa mikropreneur bukan pegawai. Namun bagaimana ia dibedakan dengan apa yang galib disebut sebagai entrepreneur?

Perbedaan mikropreneur dengan entrepreneur dalam pengertian konvensional sedikitnya nampak dalam tiga hal. Pertama, mikropreneur bukanlah pengambil risiko yang besar. Ia bukanlah orang sehebat Ir. Ciputra yang sejak muda berambisi besar untuk mengubah wilayah tandus menjadi kota, mengubah sampah menjadi emas. Ia juga bukan orang seperti Mochtar Ryadi dan anak cucunya yang memiliki nyali luar biasa untuk mengambil risiko-risiko raksasa. Mikropreneur mengambil risiko tertentu juga, tetapi dalam skala yang relatif kecil.
Perbedaan kedua adalah soal motivasi. Motivasi utama seseorang memilih jalur menjadi mikropreneur adalah pertama-tama dan terutama kebebasan. Ambisinya kepada kebebasan lebih besar ketimbang ambisi terhadap kekayaan finansial. Ini disebabkan oleh pilihan nilai-nilai tertentu yang dianutnya. Misalnya, sejumlah kawan di Jakarta memilih menjadi mikropreneur semata-mata karena mereka tidak ingin menghabiskan waktu 3-4 jam sehari di jalanan yang macet setiap hari. Mereka ingin punya waktu lebih banyak untuk melakukan hal lain yang disukainya; atau lebih memberikan waktu untuk pasangan hidup, anak-anak, atau anggota keluarga lainnya. Pada satu sisi mereka merasa bekerja sebagai pegawai di Jakarta—dengan tempat tinggal yang terletak jauh dari kantor, dan pertumbuhan penghasilan yang berkejaran dengan inflasi—adalah pilihan yang tidak rasional. Belum lagi soal rutinitas pekerjaan yang tidak memberikan tantangan bagi pertumbuhan mental-emosional-spiritualnya. Pada sisi lain, mereka sebenarnya tidak bercita-cita besar untuk menjadi konglomerat atau taipan yang memimpin usaha skala nasional dan internasional. Posisi mikropreneur terjepit di antara pegawai dan entrepreneur skala besar.

Perbedaan ketiga harus ditambahkan sebagai bagian yang tak terpisahkan, bahwa mikropreneur adalah seorang yang terpelajar. Meski mereka belum tentu orang yang memiliki banyak gelar akademis, namun mikropreneur adalah orang yang senang belajar dan karenanya pro-perubahan. Karena itu jenis usaha yang dilakukan oleh mikropreneur umumnya lebih mengandalkan kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang memang diminatinya. Mereka terus belajar meningkatkan kompetensinya dan menghasilkan karya-karya yang menunjukkan ciri-ciri hakiki dari kaum terpelajar.
Berdasarkan pemahaman di atas, saya menggunakan istilah trainerpreneur untuk menunjuk kepada mikropreneur yang menekuni bidang pelatihan. Sebab trainerpreneur memenuhi semua ciri dari apa yang disebut mikropreneur itu. Mereka bukan pegawai karena mereka fokus pada peluang; menyimak pada apa yang laku di pasar; berorientasi pada hasil; memikirkan soal perolehan keuntungan; senang mencoba ide-ide baru; terpesona terhadap suatu visi jangka panjang yang menyangkut peran mereka dalam membangun manusia-manusia Indonesia yang lebih baik.

Trainerpreneur bukan entrepreneur dalam pengertian konvensional, sebab mereka bukan pengambil risiko besar; mereka mengutamakan kebebasan di atas keberhasilan finansial; dan tentu saja mereka senang belajar. Seorang entrepreneur belum tentu bisa dan belum tentu berminat untuk memainkan peranan sebagai trainerpreneur, demikian juga sebaliknya.
Dalam pengamatan saya, profesi sebagai trainerpreneur tumbuh dan berkembang di Indonesia hampir bersamaan dengan munculnya profesi perencana keuangan, yakni dalam satu dekade terakhir, bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru. Bak cendawan di musim penghujan, makin banyak orang tertarik untuk menjadi trainer dan pembicara. Media cetak dan elektronik juga mulai memberikan tempat khusus terhadap mereka yang berkecimpung dalam bidang ini. Kolom-kolom di media cetak, unjuk bicara di radio dan televisi semakin marak dengan kehadiran mereka.

Sudah bertahun-tahun saya memikirkan cara untuk mendorong munculnya trainerpreneur-trainerpreneur baru di negeri ini. Sebab saya berkeyakinan bahwa kehadiran mereka akan memberikan dampak positif bagi pembangunan manusia-manusia Indonesia dalam jangka panjang. Dan akhirnya saya menemukan kawan seiring untuk bekerjasama dalam soal ini: Hari Subagya. Lewat program Train and Grow Rich yang dirintisnya tahun 2008 lalu, kami memutuskan untuk mulai bergerilya memasarkan profesi trainerpreneur di tahun-tahun mendatang.

*Andrias Harefa
The Real Indonesian Trainer
Penulis 30 Buku Best-seller

Selasa, 05 Oktober 2010

PELATIHAN SEPTEMBER- OKTOBER 2010

25/09         : Achievement Motivation Training SMPIT Abu Bakar Yogyakarta I
02/10         : Achievement Motivation Training SMPIT Abu Bakar Yogyakarta II
06/10         : Quantum Learning  Politeknik LPP Yogyakarta
09/10         : Motivasi & Inspirasi Mahasiswa Gama Cendikia UGM
09/10         : Leadership yang SIP Satson SMART Masjid Syuhada
10/10         : Achievement Motivation Training MTs Negeri Maguwoharjo
15/10         : Bermula dari Mimpi TCT JAN Inc SMF Kota Yogyakarta
16/10         : Fasilitator Public Speaking Training JAN Inc
22/10         : TCT JAN Inc Menghadapi Ujian Hidup @ Pajangan
23/10         : Fasilitator Public Speaking Training JAN Inc
25/10         : smart Motivation REALITA in promo @ Padmanaba
28/10         : smart Motivation REALITA in promo @ SMP Negeri 5 Jogja

Senin, 27 September 2010

Teknik Memotivasi

 
              Dalam rangka menulis sebuah buku motivasi dan pengembangan diri, saya belajar keras meneladani para pembicara dan penulis motivasi, tentang bagaimana cara mereka menyampaikan materinya.

Selama ini, kita mengenal ada dua macam pembicara motivasi terkait dengan teknik-teknik motivasinya:

1. Ada pembicara motivasi yang mengambil jalur "inspirational speaker" seperti yang ditempuh Pak Jamil Azzaini yang dengan tegas membranding diri sebagai Inspirator SuksesMulia.

Ciri dari gaya ini adalah banyaknya mereka menggunakan pendekatan metafora, indirect command, permainan emosi, dan story telling.

Keindahan mereka ada pada kemampuan mereka dalam menyiratkan sesuatu secara halus dan bisa langsung masuk ke wilayah bawah sadar - kita tahu, bawah sadar punya dominasi kuat pada sikap dan perilaku.

2. Ada pembicara motivasi yang kita kenal dengan sebutan "motivational speaker". Saya cukup yakin bahwa sebagian besar pembicara motivasi dan para trainer adalah termasuk kelompok ini.

Ciri dari gaya ini adalah positioning mereka yang lebih banyak menjadi pendorong semangat dengan pendekatan-pendekatan logis dan masuk akal, atau dengan pendekatan direct command.

Keindahan mereka terletak pada kemampuan mereka untuk mempengaruhi orang lain untuk teryakinkan atau melakukan sebuah tindakan.

Saya menemukan, bahwa lebih jauh lagi dari kedua hal di atas, fenomena budaya Indonesia dan sekaligus fenomena Bahasa Indonesia, ternyata memberi peluang lebih luas dan lebih dalam terkait dengan teknik-teknik motivasi yang mungkin kita kembangkan di negeri ini.

Saya menyederhanakannya dengan dua pendekatan:

1. Macro Motivation

Yaitu sebuah model pendekatan teknik motivasi, yang berfokus pada gambaran besar suatu topik motivasional. Seorang pembicara motivasi yang berbicara tentang "Kita Pasti Bisa", akan mengeksplorasi segala hal di seputar topik itu, dalam rangka mempersuasi pembaca atau audiencenya untuk mengadopsi sebuah keyakinan atau mengambil tindakan. Dalam pendekatan ini, yang cenderung praktis, sang pembicara motivasi tidak terlalu memperhatikan bagaimana ia menggunakan kata-kata dan sistematikanya, melainkan hanya berfokus pada hasil akhirnya yaitu audience yang teryakinkan untuk mengambil tindakan. Rata-rata pembicara motivasi bergerak di wilayah ini.

Keindahan gaya ini terletak pada pergeseran massive yang diciptakan, setidaknya di ruang kelas, dari audience yang seperti menjadi orang lain dan berbeda antara pagi hari ketika mereka memasuki kelas dan sore hari ketika mereka meninggalkan ruangan.

2. Micro Motivation

Yaitu sebuah model pendekatan teknik motivasi, yang berfokus tidak hanya pada gambaran besar topik, melainkan juga mempertimbangkan berbagai detil bahkan sampai yang terkecil. Bukan tidak mungkin, sang pembicara motivasi dalam hal ini, melakukan riset yang mendalam tentang alternatif-alternatif proyeksi dampak dari berbagai cara penyampaian materi.

Keindahan gaya ini, adalah pada kemampuan pembicara motivasi itu sendiri dalam menggiring audience atau pembaca memasuki sebuah state, dan dengan handalnya mereka dipertahankan tetap berada di sana secara asosiatif. Selain itu, pembicara motivasi yang demikian sangat piawai dalam meng-utilisasi berbagai konsep paling mendasar di dalam dunia motivasi, yang terus mereka pertahankan di sepanjang sesinya, melalui disain yang apik.

Saya punya dua contoh yang menarik tentang model ini. Dua contoh itu adalah dua orang pembicara motivasi yang sangat luar biasa. Saya pribadi belum pernah belajar langsung kepada mereka, saya hanya baru belajar dari kata-kata mereka yang saya dengar atau saya baca.

Yang pertama adalah Kang Zen alias Nunu Zainul Fuad, yang selalu dan selalu memperhatikan rhyme di dalam materi-materi motivasinya. Rhyme adalah keindahan bunyi dari kata-kata, yang secara hipnotik membuat orang sangat menikmati iramanya, sehingga tidak punya kesempatan untuk melakukan "penolakan" terhadap isi dari materi. Pendekatan ini mirip dengan teknik metafora dan story telling yang punya dampak sama; jalur bebas hambatan melewati RAS dan langsung menuju ke wilayah bawah sadar.

Yang kedua, tentu saja Pak Mario Teguh, yang tak bisa dipungkiri menjadi salah satu yang terbaik saat ini. Saya cukup detil mengobservasi beliau demi pembelajaran saya, dan saya sharing sedikit di sini.

Pak Mario sangat super dalam memperhatikan dampak dari SETIAP kata-kata. Saya yakin beliau punya metodologi riset untuk yang satu ini. Kata-kata yang meluncur dari mulutnya, selalu berdampak pada hal-hal berikut ini:

- Menggiring audience atau pendengar memasuki sebuah state terkait konsep motivasi.
- Membuat audience atau pendengar terbuai dengan keindahan rhyme dan ritme dari kata-katanya.
- Mampu mempertahankan state itu di sepanjang sesi motivasinya.
- Mempu tetap menyuntikkan berbagai konsep dasar motivasi yang sebenarnya tidak langsung berhubungan dengan topik yang sedang di sampaikan, topik-topik mendasar yang menjadi keyakinan dasar setiap orang.

Contoh yang paling sederhana adalah seperti yang berikut ini.

Kita sangat terbiasa menggunakan pasangan kata-kata seperti "kekurangan" dan "kelebihan".

Pak Mario Teguh menggunakannya dengan berorientasi pada micro motivation.

Menggunakan pasangan kata itu, Pak Mario akan menyampaikannya begini:

"Kekurangan" dan "Pelebihan"

Dengan cara seperti di atas, inilah yang bisa saya amati:

- Kedua kata itu menjadikan konsep dasar motivasi "the power of contrast" - sebagai bagian dari teknik persuasi, menjadi lebih kuat.
- Di dalam kedua pasangan yang digunakan itu, makin menonjolkan konsep dasar motivasi "sabar, syukur, menerima" terimplikasi di dalamnya, dan secara tidak langsung berkonotasi dengan "kebaikan" dan "kepantasan" - dua kata yang menjadi favorit beliau.
- Kata "kekurangan" terasosiasi sebagai sesuatu yang melekat pada diri sendiri, dan kata "pelebihan" terasosiasi sebagai sesuatu yang diberikan oleh pihak lain, yaitu Tuhan. Di sinilah, permainan state beliau menjadi sangat luar biasa, terlepas dari segala kontroversi tentang tata bahasa.

Menarik bukan?

Semoga bermanfaat.

sumber : Ikhwan Sopa (Master Trainer E.D.A.N.)

Selasa, 24 Agustus 2010

TIDAK ADA DEWASA YANG INSTAN



Sesungguhnya, taraf kemampuan kognitif anak bertingkat-tingkat secara hierarkis. Dan pendidikan berkewajiban mengantarkan setiap anak agar mampu mencapai taraf kognitif yang setinggi-tingginya. Taraf paling rendah adalah pengetahuan. Ini merupakan kemampaun untuk mengetahui, mengenal dan mengingat apa-apa yang sudah ia pelajari. Ia bisa mengulang kembali dan menyampaikan kepada orang lain. Di negeri ini, pelajaran di kelas dan ujian di sekolah kerapkali hanya menakar kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan.

Berbagai teknik atau trik yang banyak diperkenalkan (lebih jelasnya: dijual) kepada masyarakat umumnya sebatas membantu anak mencapai kemampuan kognitif terendah. Bukan mengembangkan kemampuan berpikir. Lebih-lebih cara berpikir, umumnya hampir tak tersentuh. Tetapi inilah yang paling mudah kita lihat: atraksi kebolehan dan demonstrasi yang menunjukkan perubahan cepat luar biasa. Karena terpukau, kita kemudian kehilangan daya berpikir kritis tatkala para trainer itu mengatakan bahwa trik-trik tersebut membangun karakter anak! Padahal yang dimaksud bukan karakter. Yang dimaksud hanyalah sebatas kemampuan kognitif.


Karakter lebih banyak berkait dengan kualitas personal pada diri seseorang. Karakter bermula dari kesadaran terhadap nilai-nilai (bukan sekadar tahu atau bahkan paham), partisipasi atau kesediaan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan barulah kemudian sampai pada tingkat karakterisasi diri.

Yang dimaksud dengan penghayatan nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya. Sedangkan pengorganisasian nilai merupakan kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya. Sampai pada tingkat ini, karakter masih belum terbentuk. Karakterisasi baru terjadi apabila seseorang telah mampu memilih nilai sebagai gaya hidup (life style) dimana sistem nilai yang terbentuk mampu mengawasi tingkah lakunya.

Jadi, ada proses panjang sebelum terbentuk dalam diri seseorang. Ia bukan sekedar keterampilan. Ia merupakan perwujudan nilai-nilai yang mempengaruhi pikiran, cara pandang, penghayatan dan gaya hidup kita. Ia menjadi penakar dalam menentukan sebuah tindakan terkait dengan patut atau tidak, mulia atau hina. Ia berangkat dari kesadaran. Bukan pengetahuan. Kesadaran merupakan tingkat terendah dari kemampuan afektif. Sedangkan tingkat terendah kemampuan kognitif adalah pengetahuan (knowledge). Ini berarti, sekadar pintar tak berpengaruh pada karakter.

Setingkat di atas pengetahuan adalah pemahaman (understanding). Pada tingkat ini –tingkat terendah kedua dalam kemampuan kognitif—anak mengerti dengan baik apa yang dipelajari. Kemampuan ini bukan semata karena anak belajar, tetapi karena pendidik memang memahamkan. Bukan sekadar menyampaikan sejelas-jelasnya sehingga anak mengingat dengan baik dan mampu menyampaikan kembali secara gamblang. Pendidik perlu secara serius merangsang kemampuan berpikir anak sehingga mereka memahami dengan baik apa yang diterangkan.

Yang perlu kita catat, pemahaman tidak berpengaruh terhadap perilaku. Pemahaman baru akan bermanfaat menuntun dan mengarahkan perilaku anak-anak kita, jika mereka telah menghayati nilai-nilai agama ini dengan baik. Sangat berbeda, menghayati dengan memahami.

Itu pula yang menerangkan mengapa anak yang telah memahami baik-buruknya sesuatu, tidak berubah perilakunya. Kecerdasan mempengaruhi kemampuan mengingat, mencerna dan memahami sesuatu. Sedangkan keyakinan mendorong orang untuk menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya, meskipun bertentangan dengan pemahamannya.

Kembali pada jenjang-jenjang kemampuan kognitif. Setingkat di atas pemahaman adalah penerapan (aplikasi), yakni kemampuan menggunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata. Ini bukan berurusan dengan keyakinan. Ini erat kaitannya dengan kecakapan untuk menerapkan apa yang telah ia ketahui. Shalat misalnya. Anak bisa melakukan shalat dengan sangat baik bukan karena yakin dan suka, tetapi karena ia memahami betul tata-cara shalat yang baik.

Jenjang kemampuan berikutnya adalah analisis. Berbekal pemahaman yang baik dan mendalam atas berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan sekaligus (pernah) ia praktikkan, seseorang bisa mencapai kemampuan analisis. Ia mampu menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Jika kemampuan ini berkembang lebih lanjut, ia akan sampai pada taraf kognitif yang lebih tinggi, yakni sintesis. Ini merupakan kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti. Ia mampu menemukan benang merah berbagai pengetahuan yang berserak menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.

Tingkat tertinggi kemampuan kognitif adalah penilaian. Bukan menilai orang dari apa yang tampak, melainkan kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan yang ditetapkan terlebih dahulu, baik bersifat internal maupun eksternal. Di tingkat inilah seseorang mencapai tingkat pemahaman yang mendalam. Kemampuan ini barangkali lebih dekat dengan makna faqih. Bukan sekadar faham. Dan amat sedikit orang yang mencapai kemampuan ini.

Cerdas & Terampil Belum Mencukupi
Apakah anak-anak sudah cukup berharga jika mereka mencapai kemampuan kognitif yang tinggi? Cerdas saja tidak cukup. Alangkah banyak anak-anak yang cerdas tetapi miskin keterampilan. Lalu, apakah cerdas dan terampil telah cukup untuk membekali mereka meraih sukses? Jangankan untuk akhirat. Sukses dunia pun tak cukup hanya berbekal cerdas dan terampil. Bahkan kejeniusan pun tak menolong mereka.

Mari kita ingat sejenak salah satu jenius besar yang pernah lahir di muka bumi. Namanya William James Sidis. Bapaknya –seorang profesor—adalah pengagum besar William James, tokoh psikologis behaviorisme yang yakin betul bahwa pembiasaan merupakan kunci terpenting pendidikan.

Sejak usia 6 bulan, ayahnya telah mengajarkan kepadanya huruf-¬huruf sesuai urutan abjad. Sesudah itu, ayahnya mengajarkan ilmu bumi, ilmu ukur, ilmu tubuh manusia, dan bahasa Yunani berdasarkan buku ajar yang dipakai di sekolah. Hasilnya, usia lima tahun William James Sidis telah mampu menyusun karya ilmiah tentang anatomi. Kejeniusannya berkembang sehingga pada usia 11 tahun ia telah menjadi mahasiswa di Harvard University dan usia 14 tahun telah mampu memberi kuliah.

Tetapi kecerdasan tanpa kemampuan mengelola diri, tak cukup untuk membuatnya bahagia. Ia kemudian melarikan diri dari lingkungan yang mengelu-elukannya. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran karena kecerdasan tak bisa membuatnya bahagia.

Sesungguhnya ada tiga potensi manusia yang berbeda-beda tingkat kemudahannya membentuk. Yang paling sulit adalah karakter, sesudah itu motivasi dan yang paling mudah adalah kemampuan kognitif serta keterampilan. Jika seseorang memiliki karakter yang kuat, mudah baginya untuk memperoleh kemampuan kognitif maupun keterampilan yang tinggi. Dan inilah yang harus kita perhatikan saat mereka belia. Inilah yang menjadi perhatian di berbagai belahan bumi yang menghargai betul arti sumber daya insani.
Bagaimana dengan Anda? SUARA HIDAYATULLAH JUNI 2010

oleh : Muhammad Fauzil Adzim

Minggu, 08 Agustus 2010

PELATIHAN AGUSTUS 2010

"Tidak perlu menjadi HEBAT baru bertindak, berTINDAKlah maka akan menjadi HEBAT !


08/08 : Superb Learning Camp JAN
12/08 : on Air @ MQ FM Jogja 16.30
13/08 : ToT Pemandu PPSMB Fak Pertanian UGM
14/08 : Renungan Ramadhan Masjid Kotagede
15/08 : IESQ training "spiritualmotivation"
19/08 : Ospek PPSMB Teknik UGM 2010
19/08 : On Air MQ FM 16.30-17.30
20/08 : Ospek PPSMB Teknik UGM 2010
21/08 : Ospek PPSMB Teknik UGM 2010
21/08 : Pengajian Buber SMP Negeri 2 Jogja
21/08 : AMT SMP Negeri sleman (8-11)
25/08 : Antara DS & DK Fakes UGM (16)
26/08 : Ikut Seminar Property (10-12)
28/08 : Pesantren Kilat ! SMF Kota (8-11)
28/08 : IESQ training SMA Negeri 1 Sleman (19.30)
2-3/09 : Pesantren Kilat SMP Negeri 5 Depok

Agenda Pribadi : 1-10 September 2010 ITIKAF Masjid JOGOKARYAN


Permintaan yang tidak bisa dipenuhi :

Remaja Masjid Alma'mur Kulonprogo
Pesantren Kilat SMA Negeri 2 Jogja
IESQ training SMK Negeri 4 Jogja
Motivation for MABA FISIPOL UGM
Pengajian SMP Negeri 2 Jogja
Training Mentor SMA Negeri 3 Jogja
Kajian Buber SMK Negeri 2 Sewon
Kajian Buber Sketsa
Kajian Buber MiniMagz
Kajian Buber Keperawatan UGM 05
IESQ Ponpes Diponegoro
Renungan Ramadhan Masjid Sedayau
Pembicara Dai Cilik KKN UIN Terban
Pesantren Kilat SMK Sedayu


(Semua Catatan ini adalah implementasi dari Konsep Knowledge Management (KM)

Minggu, 25 Juli 2010

mitra pelatihan @ Institusi














my experience & Our Clients 2007-Now

Pelatihan Entrepreuner Pemuda Bantul kerjasama @ Menegpora RI
Pelatihan Entrepreuner Pemuda Kulonprogo kerjasama @ Menegpora
Pelatihan Entrepreuner Sekolah Tinngi Penyuluhan Pertanian Yk
Asisten Pelatihan PT Takaful Indonesia with lilik "smartrainer"
Tim Pelatihan Kandidat Manajer PT CIRYO Indonesia
ATS training reguler ESQ 165 Yogyakarta
Marketing Partner DNA SuksesMulia Kubik Leadership Jamil Azzaini
Pelatihan Program Road to Jawa (R2J4) Pelajar Johor Malaysia
Project Leader "Eagles' Day" 1000 Peserta di Audit UII Jogja

On Air @ Oase Kontemporer MQ FM Jogjakarta

etc...etc...etc...

mitra pelatihan @ Sekolah




Our Clients 2007-Now


SMA Negeri 1 Yogyakarta
SMA Negeri 2 Yogyakarta
SMA Negeri 3 Yogyakarta
SMA Negeri 4 Yogyakarta
SMA Negeri 5 Yogyakarta
SMA Negeri 6 Yogyakarta
SMA Negeri 7 Yogyakarta
SMA Negeri 8 Yogyakarta
SMA Negeri 9 Yogyakarta
SMA Negeri 10 Yogyakarta
SMA Negeri 11 Yogyakarta
SMA Negeri 1 Kartasura-Solo
SMK Negeri 1 Yogyakarta
SMK Negeri 4 Yogyakarta
SMK Negeri 1 Nanggulan Kulonprogo
Badan Koordinasi Rohis se Wates Kulonprogo
SMK Negeri 2 Pengasih Kulonprogo
SMA Negeri 1 Lendah Kulonprogo
SMA Muhammadiyah Kulonprogo
SMA Negeri 1 Depok Sleman
SMK Negeri 1 Sewon Bantul
SMP Negeri 1 Yogyakarta
SMP Negeri 2 Yogyakarta
SMPIT Abu Bakar Yogyakarta
SDIT Abu Bakar Yogyakarta


etc